Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

Let Me Kiss You…

Diantara begitu banyak ekspresi keintiman kepada pasangan, saya paling suka ciuman. Buat saya, ciuman manja di pipi, ciuman lembut di jidat, atau ciuman penuh gairah di bibir merupakan ritual keintiman yang membuat mabuk kepayang. Sensasinya bukan hanya sekadar bikin jantung berdegup kencang tapi juga menciptakan satu ikatan emosi yang kuat dengan pasangan.

Sebenarnya adegan ciuman itu membentuk komunikasi dua arah dengan pasangan. Ada tahapannya kan untuk ciuman, mulai dari menatap matanya lembut, mendekatkan wajah, hingga melekatkan bibir kita pada bibirnya. Ah menulisnya saja sudah membuat saya rindu pasangan saya. Proses ciuman inilah yang konon katanya menciptakan berbagai reaksi kimia di dalam tubuh yang kemudian membuat kita merasa mabuk kepayang.

Saya jadi teringat film Pretty Woman yang diperankan oleh Julia Robets. Di film ini, Robets yang berperan sebagai pekerja seks komersil bernama Vivian, memiliki satu aturan khusus yaitu dia tidak akan pernah mencium kliennya di mulut. Alasannya sederhana, “Because it makes it too personal.” Yup…ciuman adalah bahasa keintiman yang sifatnya sangat personal. Kenapa bisa begitu?

Scienceline.org mengungkapkan, ada sebuah studi yang mempelajari anatomi dan proses evolusi dari ritual ciuman. Orang-orang yang mempelajari ini disebut sebagai philematologists. Sampai saat ini mereka pun masih belum bisa memberikan kesimpulan yang utuh bagaimana awalnya kebutuhan untuk berciuman bibir itu muncul. Tapi sejauh dari pemetaan biologi yang dilakukan, ciuman bibir terjadi karena ada dorongan dari tubuh yang merasa nyaman untuk melakukan pelekatan keintiman.

Dan awal dari pelekatan keintiman dari mulut ke mulut ini diduga justru dari interaksi ibu kepada anaknya. Nenek monyang kita diperkirakan memiliki kebiasaan untuk menyuapi anaknya melalui mulut. Jadi, untuk membantu anaknya yang masih belum sempurna mengunyah makanan, para ibu biasanya akan ‘melembutkannya’ di dalam mulutnya terlebih dahulu. Setelah itu baru diberikan kepada anaknya yang masih bayi.

Bahkan kebiasaan ini masih diteruskan hingga bayinya yang sudah beranjak menjadi anak-anak dengan jumlah gigi yang cukup untuk mengunyah makanan. Hanya saja kebiasaan itu tetap dilakukan karena ternyata anak merasa lebih nyaman dan tenang ketika menyentuh bibir ibunya.

Itu mengapa disimpulkan, ciuman adalah kebutuhan intimasi yang dipelajari dan diwariskan sejak zaman manusia masih menggunakan batu sebagai pisau. Menariknya para antropolog menyebutkan, 90 persen suku yang ada di seluruh dunia telah akrab dengan kebiasaan berciuman sebagai ekspresi kasih sayang. Ini yang kemudian membuat sebagian philematologists percaya kalau ciuman adalah sesuatu yang dipelajari dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Lalu sebagian philematologists lainnya berpikir apa mengenai ciuman? Mereka menyebut ciuman adalah bagian dari aktivitas yang didorong oleh insting. Karena status manusia yang masuk dalam kelas hewan memiliki kebutuhan untuk menunjukkan rasa sayangnya dengan saling mengusap hidung atau berciuman. Bonobos misalnya, hewan yang masuk jenis simpanse ini akan berciuman setiap kali selesai berkelahi dengan kelompoknya. Tujuannya sederhana, ciuman akan menciptakan rasa nyaman, menguatkan ikatan sosial, dan mendamaikan yang berkelahi. Ciuman yang mendamaikan. Insting yang sangat menarik.

Tapi apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh kita sehingga ciuman bisa punya efek menenangkan yang luar biasa? Jawabannya adalah hormon, ciuman memicu hormon feromon yang merupakan hormon cinta. Tatapan mata dan sentuhan halus di wajah atau ketika kita menggenggam tangan pasangan, adalah signal bagi tubuh untuk mengeluarkan feromon. Apabila kita merasakan chemistry yang kuat terhadap lawan ciuman kita, maka level feromon akan berubah menjadi ‘pertukaran informasi biologis’ untuk mengetahui apakah si dia ‘lulus sensor’ atau tidak.

“Ciuman bukan sekadar ekspresi cinta, tapi juga merupakan tes untuk kita menambah atau mengurangi rasa sayang kepada pasangan,” ucap Helen Fisher, profesor dari Rutgers University yang juga menulis buku Why Him, Why Her. Finding Real Love by Understanding Your Personality Type. Di depan American Association for the Advancement of Science, Fisher mengungkapkan, 59 persen laki-laki dan 66 persen perempuan akan menggantungkan keputusannya melanjutkan hubungan dengan lawan jenis pada kualitas ciuman pertama. “Ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Gordon Gallup Jr., profesor psikologi dari University of Albany”, demikian Fisher memaparkan.

Itu mengapa Fisher juga menyebut ciuman sebagai proses seleksi alam yang paling intim. “Menariknya persentase itu adalah mereka merasa tidak tertarik pada pasangan ketika ritual ciumannya tidak berjalan mulus.”

Fisher menjelaskan, saat berciuman ada begitu banyak informasi yang bisa terlihat. Informasi apa sajakah itu? Ciuman adalah ‘alat baca’ untuk mengetahui apakah lawan ciuman kita memiliki aroma, suara, sentuhan yang kita sukai. Jika kita merasa menemukan semuanya dalam paket utuh yang kita sukai maka kita akan membalas ciuman itu. Dari sinilah ciuman diartikan sebagai ikatan kenyamanan yang personal.

Hal lain yang juga terungkap pada penelitian yang melibatkan lebih dari 1.000 responden itu adalah, ternyata perempuan lebih menyukai ciuman ketimbang laki-laki. Bahkan perempuan diamati lebih sering mengirimkan signal untuk berciuman sebagai awalan untuk bercinta. Fakta menarik mengenai ciuman dan bercinta adalah dua-duanya terbukti efektif mengurangi stres!

Seperti dikutip dari CNN, reduksi stres terbukti terjadi pada responden yang diteliti oleh Wendy Hill, profesor neuroscience dari Lafayette College.

Pada penelitian pertamanya, Hill melibatkan 15 pasangan heteroseksual dengan rentang usia 18-22 tahun. Sebelum diamati, responden diukur kadar hormon oksitosin dan kortisol. Oksitosin adalah hormon yang membuat tubuh rileks sedangkan kortisol adalah hormon stres. Responden kemudian dibagi dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk berbicara dan bergandengan tangan dengan pasangannya sambil mendengarkan musik selama 16 menit. Sedangkan kelompok yang lainnya diminta untuk berciuman selama musik dimainkan. Hasilnya, hormon stres lebih cepat turun pada kelompok yang diminta berciuman selama mendengarkan musik.

Sementara itu Fisher mengungkapkan, setidaknya ada 3 sistem di dalam otak yang ikut terstimulasi ketika manusia berciuman. Sistem itu adalah bagian otak yang mengendalikan hasrat untuk mendapatkan dorongan seksual, cinta romantis, dan berkomitmen.

Pada level dorongan seksual yang terjadi adalah proses menyeleksi apakah lawan berciuman kita cukup menarik untuk dijadikan pasangan. Sedangkan pada level cinta romantis, kita sudah mau menjalin cinta dengan pasangan. Dan pada level komitmen, kita sudah melihat bahwa pasangan adalah orang yang bisa ditoleransi menjadi partner dalam membina rumah tangga. “Itu mengapa ciuman bisa jadi tolak ukur kita untuk mengartikan level hubungan yang serius atau justru hanya sekadar untuk bersenang-senang,” jelas Fisher.

Meski terkesan sangat sederhana, ciuman cukup efektif menstimulasi area bibir, lidah, hidung, pipi, dan leher. Ini adalah area yang akan dengan mudah mengaktifkan sistem kerja somatosensory cortex yang merupakan bagian otak yang membantu kita menganalisa level interaksi keintiman yang kita rasakan.” Inilah mengapa ciuman bisa jadi cara yang paling menyenangkan untuk menyeleksi calon pasangan hidup. Dan setiap kali berciuman, nikmati plus jangan lupa untuk mengamati apakah pasangan kita layak untuk diluluskan pada level selanjutnya atau tidak?

Gambar diambil dari 17000-days.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *