Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

Rasa Manis Adalah Candu

Ternyata bukan cuman cinta dan agama yang bisa menjadi candu, rasa manis dari makanan serta minuman bisa diartikan sebagai zat adiktif oleh otak kita. Dan konon kata candu atau zat adiktif sangat dekat arsirannya dengan sesuatu yang berbau negatif, dalam dunia kesehatan dikenal sebagai bisa merusak kerja sistem tubuh.

Tapi bukankah (hampir) semua orang suka dengan rasa manis? Setidaknya pemikiran ini juga yang diungkapkan oleh peneliti Marcia Pelchat, PhD., ahli kimiawi rasa dari lembaga penelitian di Philadelphia, Amerika Serikat. “Kita semua sudah suka rasa manis, bahkan jauh sebelum kita dilahirkan,” ucapnya seperti dilansir dari Webmd.com

Bahkan rasa manis dijadikan pancingan para dokter kandungan ketika akan melakukan pemeriksaan indeks cairan ketuban. Jadi pada minggu ke-20 masa kehamilan, dokter kandungan akan memeriksa apakah cairan ketuban yang ‘membungkus’ janin berada pada kadar yang cukup. Dan metode pemeriksaan indeks cairan ketuban yang paling terkenal adalah dengan cara amniotic fluid index (AFI).

Jika AFI menunjukkan cairan ketuban yang berlebihan cara yang dipilih dokter kandunngan untuk mengeluarkannya adalah memancing bayi dengan rasa manis. Jadi cairan manis akan disuntikkan ke dalam rahim ibu yang kemudian membuat bayi akan menghisap cairan tersebut.  Kemudian cairan yang dihisap janin akan dikeluarkan melalui tali pusat yang akan dikumpulkan pada ginjal ibu dan dikeluarkan bersama urin ibu. Dari sinilah logika pernyataan bahwa kita sudah menyukai rasa manis sejak sebelum dilahirkan berasal.

Lalu jika rasa manis sudah begitu mengakar pada panca indera kita, bagaimana bisa rasa ini menimbulkan kecanduan? Apa iya kecanduan gula atau rasa manis itu benar adanya atau hanya mitos belaka?

Sebelum menjawab rasa penasaran itu, Pelchat menjelaskan apa yang terjadi pada uji coba yang dilakukan beberapa peneliti kepada hewan. Beberapa penelitian memang mengungkapkan, hewan yang terbiasa mengonsumsi makanan atau minuman dengan kadar gula yang tinggi membuat otak mengeluarkan satu rantai kimia untuk kemudian membentuk dopamin.

Dopamin adalah hasil reaksi kimia yang memberikan rasa nyaman pada tubuh. Rasa nyaman ini yang kemudian membuat otak akan merekam apa saja yang kita lakukan untuk memicu produksi dopamin sebagai sumber kesenangan. Rekaman ini akan tersimpan dengan rapih yang kemudian akan diputar ulang setiap kali kita merindukan rasa nyaman. Dari sinilah keinginan untuk memancing dopamin demi membuat tubuh nyaman berasosiasi dengan kecanduan. Sebab kerinduan untuk merasa nyaman menjadi ‘panggilan’ baru bagi tubuh untuk memproduksi dopamin melalui benda, zat, kebiasaan, atau bahkan rasa cinta berujung pada ketagihan.

Tapi yang tidak ditemukan pada hewan-hewan penelitian adalah, mereka tidak merasakan sakaw atau reaksi tubuh akibat tidak terpenuhinya ‘panggilan’ tubuh untuk menciptakan dopamin dalam otak. Sedangkan yang terjadi pada manusia ketika mereka memutus hubungan dengan makanan atau minuman tinggi gula adalah efek ketagihan seperti tubuh gemetar, panik, gelisah, bahkan sampai tidak dapat memfokuskan pikiran. Di level reaksi tubuh seperti itulah rasa manis bisa menjadi sensasi rasa yang masuk kategori menyebabkan kecanduan. Artinya, kecanduan rasa manis bukanlah mitos!

Dan sebenarnya kecanduan rasa manis tak hanya membuat tubuh gemetaran atau gelisah luar biasa ketika kita tiba-tiba menghentikan konsumsinya. Terlalu terbuai dengan kenikmatan makanan atau minuman manis juga membuat tubuh kelebihan pasokan kalori dan malnutrisi. Rachel K. Johnson, RD., MPH.,PhD., profesor nutrisi dari University of Vermont yang juga juru bicara American Heart Society, mengungkapkan fanatisme terhadap makanan atau minuman berasa manis adalah salah satu faktor terkuat tingginya angka obesitas di seluruh dunia. Dan fanatisme ini membuat orang tidak berpikir untuk mengonsumsi variasi makanan dengan beragam rasa yang kemudian merujuk pada kekurangan gizi meski jarum timbangan terus menunjuk ke angka-angka besar.

Bahkan Johnson dengan yakin memberikan garis lurus antara makanan tinggi gula dengan kadar kolesterol jahat yang tinggi. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan pada Journal of the American Medical Association (JAMA), orang yang konsumsi makanan atau minuman bergulanya tinggi memiliki kadar trigliserida yang sangat banyak dalam darahnya. Ini adalah kolesterol jahat yang bisa menjadi plak pada saluran pembuluh darah dan merupakan salah satu penyebab utama munculnya serangan jantung.

Sedangkan orang yang tidak fanatik dengan makanan atau minuman manis, memiliki kadar trigliserida yang redah dan mampu membentuk High Density Lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik dalam jumlah yang banyak. HDL inilah yang akan melindungi jantung dari berbagai kerusakan.

Semakin penasaran untuk mengetahui apakah kita termasuk orang yang fanatik dengan makanan atau minuman manis? Idealnya perempuan disarankan untuk mengonsumsi 6 sendok teh gula setiap harinya atau setara dengan 100 kalori per hari. Sedangkan untuk laki-laki, takaran idealnya adalah 9 sendok atau setara dengan 150 kalori per hari.

Untuk mempermudah hitung-hitungan kita akan takaran gula ini, saya akan menggunakan sekaleng minuman soda sebagai analogi. Sekaleng minuman soda biasanya mengandung 8 sendok teh gula atau 130 kalori. Takaran ini untuk perempuan berarti sudah melebihi batas yang dianjurkan sedangkan untuk laki-laki berada di zona waspada. Sebenarnya dari sekian banyak makanan dan minuman yang sering menggundang indera pengecap kita untuk terus menikmati olahan gula ini, minuman soda adalah yang paling sulit dipantau. Sebab sebagian besar dari kita menganggapnya sebagai minuman ringan sebagaimana kita sering menyebutnya soft drink. Padahal sekaleng saja sudah menjadi antisipasi bagi takaran konsumsi ideal kita per harinya.

Setelah mengetahui takaran konsumsi idealnya, kita kemudian dihadapkan dengan beragamnya bentuk gula, mulai dari gula pasir biasa, gula sirup maple, gula corn syrup,  brown sugar, madu, sukrosa, hingga pemanis buatan. Johnson menjelaskan, pada dasarnya semua gula itu hanya dibedakan pada sensasi rasa manis yang diberikan dan fungsinya. Ada gula yang lebih cocok digunakan untuk campuran kue karena teksturnya yang lembut sedangkan gula lain lebih cocok.

Pada dasarnya hampir sebagian besar gula adalah masuk dalam kategori gula sederhana yang bisa dengan cepat dibakar menjadi energi oleh tubuh. Tapi meski masuk gula sederhana cakupan kalori yang dibawa masing-masing gula sangat beragam. Ini yang harus kita antisipasi. Jadi setiap kali kita membeli atau memilih pemanis yang harus menjadi perhatian adalah angka pada kolom kalori yang ada pada tabel kemasan. Trik biasa membaca tabel kemasan makanan atau minuman adalah filterisasi sederhana untuk memilih makanan serta minuman yang sesuai kapasitas tubuh untuk mengolahnya.

Dan untuk memastikan pembakaran gula berlangsung sempurna di dalam tubuh adalah dengan melatih panca indera perasa kita. Iya, lidah kita bisa dilatih untuk menyukai gula sesuai takaran idealnya. Pakar nutrisi Kristin Kirkpatrick, MS.,RD., dari Cleveland Clinic memberi tahu triknya. Cobalah untuk mengurangi satu porsi makanan atau minuman manis setiap minggunya. Lalu secara perlahan kurangi takaran gula yang ada pada cangkir kopi, teh, atau mangkuk sereal kita. “Waktu yang pada akhirnya mengajarkan lidah kita untuk menyukai gula pada takaran ideal, tidak kekurangan apalagi kelebihan.”

Lalu lengkapi trik itu dengan mengonsumsi buah dan sayur lebih banyak. Ini akan membuat tubuh mendapatkan sumber gula alami sambil menambah ‘amunisi’ pembakaran gula dengan konsumsi air putih lebih banyak. Jangan lupa untuk menambah protein pada menu makanan. Sebab protein akan membantu tubuh mengurangi efek mudah lapar saat kita ‘sakaw’ gula. Proteinlah yang akan membuat saluran pencernaan kita mencacah makanan lebih lambat sehingga kita akan merasa kenyang lebih lama. Adapun sumber protein yang disarankan adalah daging ayam tanpa kulit, yogurt rendah lemak, kacang-kacangan, dan telur.

Untuk menyembuhkan diri dari kecanduan gula, rahasianya adalah rutin berolahraga. Sebab olahraga membuat tubuh menjadi lebih ringan, bugar dan berenergi. Kondisi nyaman inilah yang kemudian memicu kita untuk terus menerapak kebiasaan hidup sehat, salah satunya adalah dengan menikmati gula sesuai kemampuan tubuh mengolahnya.

Jadi sudah siap beralih dari bidah candu rasa manis?

 

Foto dari sini

2 Comments

  1. honeylizious

    Bagaimana dengan cewek yang manis? Apakah menimbulkan kecanduan juga pada manusia?

    *eh*

    Reply
    1. Pelayan Medja Makan (Post author)

      Sangat membuat kecanduan Mba 😀 *testimoni*

      Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *