Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

Rumus Bahagia Ala Lagu Don’t Worry Be Happy

Bobby McFerrin pada tahun 1988 merilis lagu Don’t Worry Be Happy, lagu ini sukses menjadi lagu acapella pertama yang menduduki tangga lagu Billboard 100 dan melesat menjadi lagu populer yang diikenang sepanjang masa.

Tapi ternyata lagu Don’t Worry Be Happy ini bukan hanya nyaman didengarkan oleh jutaan pasang kuping di dunia, sebab para ilmuwan menemukan ada ‘rahasia’ di balik lagu ini.  Para ilmuwan memenggal liriknya dan menganalisa secara ilmiah.

Dan kini, Medjamakan merapal mantranya agar kita bisa melihat rahasia dibalik lagu Don’t Worry Be Happy. Inilah rapalannya:

1. Kuatir = Tambah Stres

In every life we have some trouble
But when you worry you make it double

Dalam liriknya, Bobby berkata, saat kita khawatir akan masalah yang kita hadapi maka masalah kita menjadi double alias dua kali lebih susah. Bagaimana riset ilmiah mengorelasikannya? Riset menunjukkan ada hubungan antara rasa khawatir dengan detak jantung yang semakin cepat [1]. Menariknya, riset ini juga mengungkapkan, saat kita stress menghadapi masalah, jantung kita akan kembali normal dengan segera. Tapi jika kita khawatir akan masalah yang kita hadapi, maka efek stresnya akan terasa sampai 2 jam setelahnya.

2. Teman bisa membuat kita ceria kembali.

Here, I give you my phone number
When you worry call me
I make you happy

Bobby berkata, kalau kamu khawatir hubungi aku dan aku akan membuatmu ceria. Berbagai riset menunjukkan hubungan positif antara jaringan pertemanan dan kesejahteraan. Dalam studi tersebut menunjukkan jaringan pertemanan dapat menjadi penopang saat kita stres atau depresi.[2]

Nicholas Christakis bahkan mendeskripsikan efek seseorang punya jaringan pertemanan yang banyak dalam videonya di TED.[3] Contoh efek positif adalah pada kejadian epidemik obesitas, dimana orang-orang yang obese ternyata memiliki kecenderungan untuk berkumpul bersama orang obese. Alhasil mereka merasa tidak perlu memiliki tubuh sehat yang proporsional. Tapi disatu sisi, jaringan pertemanan juga memberikan efek positif karena membuat mereka merasa bahagia karena tidak sendirian.

3. Stress itu menular.

Cause when you worry
Your face will frown
And that will bring everybody down

Para peneliti pada tahun 1992 mendeskripsikan konsep “mirror neuron” [4]yaitu neuron yang membuat kita bisa menirukan aksi orang lain. “Mirror neuron” juga bisa menjelaskan fungsi empati, fungsi otak untuk bisa merasakan perasaan orang lain. Hal inilah yang salah satu pemicu menularnya emosi yang dijelaskan Nicholas di poin kita sebelumnya.

Mirror neuron ini membuat muka cemberut kita menular kepada orang lain, tapi jangan kuatir, selain raut cemberut, senyum juga bisa menular.

4. Sedih? Tersenyumlah!

Put a smile on your face

Pepatah inggris menyebutnya sebagai “fake it till you make it”; psikoterapis menyebutnya sebagai “Cognitive behavioral therapy” [5]. Banyak bukti menunjukan, secara sadar bertingkah sesuai apa yang kita ingin rasakan membuat perasaan itu keluar dengan tulus. Jadi, semisal kita merasa sedih, alih-alih mendengarkan musik sedih dan larut dalam kesedihan, lebih baik dengarkan musik berirama ceria, menonton film komedi dan tersenyum akan membuat kita ceria kembali.

5. Badai pasti berlalu.

Don’t worry, it will soon pass
Whatever it is

Menurut Daniel Gilbert dalam bukunya Stumbling on Happiness, kita terlalu fokus pada rasa sakit yang kita alami sekarang dan melebih-lebihkan rasa negatif atau positif yang mungkin akan kita alami di masa datang. [6] Menurut Gilbert, hal ini salah karena manusia punya kemampuan untuk beradaptasi terhadap hal negatif maupun positif, hal ini disebut Cognitive Adaptation.[7] Cognitive Adaptation inilah yang membuat kita bosan terhadap gadget kita yang baru, atau membuat kita akhirnya bisa menerima kepergian orang yang kita sayangi.

Begitulah sekelumit kebijaksanaan ilmiah yang bisa kita ambil dari lagu Don’t Worry, Be Happy. Jadi jangan khawatir, mari kita menikmati hidup.

[1] Prolonged Cardiac Effects of Momentary Assessed Stressful Events and Worry Episodes

Suzanne Pieper, PhD,
Jos F. Brosschot, PhD,
Rien van der Leeden, PhD and
Julian F. Thayer, PhD

http://www.psychosomaticmedicine.org/content/72/6/570.abstract

[2] Stress, social support, and the buffering hypothesis.  Cohen, Sheldon; Wills, Thomas A. Psychological Bulletin, Vol 98(2), Sep 1985, 310-357.
http://www.psy.cmu.edu/~scohen/Cohen%20%26%20Wills%201985%20Psy%20Bull.pdf

[3] Nicholas Christakis: The hidden influence of social networks

http://www.ted.com/talks/nicholas_christakis_the_hidden_influence_of_social_networks.html

[4] http://en.wikipedia.org/wiki/Mirror_neuron

[5] http://en.wikipedia.org/wiki/Cognitive_behavioral_therapy

[6] Gilbert, Daniel (2006), Stumbling on Happiness, Knopf
[7] Adjustment to Threatening Events A: Theory of Cognitive Adaptation, Shelley E. Taylor, 1983  http://taylorlab.psych.ucla.edu/1983_Adjustment%20to%20Threatening%20Events_A%20Theory%20of%20Cognitive%20Adaptation.pdf
[8] http://www.brainpickings.org/index.php/2011/09/23/bobby-mcferrin-dont-worry-be-happy-neuroscience-psychology/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *