Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

PMS : Ketika Tubuh Perempuan Minta Dimengerti

Bagi Anda pembaca laki-laki, coba amati beberapa situasi ini. Pernah ditelepon pacar mendekati tengah malam karena cranky tidak jels hanya karena charger handphone-nya patah? Atau tiba-tiba semua becandaan yang biasa kita lontarkan terasa sangat efektif untuk membuat kekasih hati diam seribu bahasa alias ngambek. Belum lagi serial membeli beragam makanan tapi hanya dimakan dalam porsi camilan. Ini pertanda apa ya? Apa pertanda pacar kita minta putus? Tapi kok ya selalu berulang di setiap bulan ya?

Salah seorang sahabat laki-laki saya pernah berujar kalau setiap kali pacarnya berlaku seperti itu, dia akan menyediakan stok sabar yang banyak. Menurut dia, perempuan memang suka begitu. “Itu masa ‘penjajahan’ hormon.” Terdengar ekstrim mungkin tapi perempuan dan hormon itu bisa digambarkan sebagai hubungan when hate and love collide. Yup, siklus hidup perempuan ditandai dengan berbagai siklus hormonal, mulai dari akil balik, menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui, hingga menopause.

Dan gejala yang ditampilkan di paragraf pertama itu memiliki istilah medisnya sendiri yaitu Premenstrual Syndrome atau PMS. Dalam kamus kedokteran, PMS disebut sebagai kumpulan gejala fisik dan emosional yang sangat tipikal dan muncul pada 5-11 hari menjelang perempuan mengalami menstruasi. Menurut US National Library of Medicine, sampai saat ini belum ditemukan apa yang menjadi penyebab utama munculnya PMS. Tapi diduga karena perubahan kadar hormon pada otak yang kemudian membuat tubuh bereaksi pada sekumpulan gejala-gejala fisik atau emosional tertentu.

Masih dari sumber yang sama, gejala fisiknya bisa berupa munculnya jerawat pada wajah atau punggung, nyeri payudara, perut terasa kembung, konstipasi, sakit kepala, nafsu makan bertambah, hingga mood swing. Gejala yang muncul bulanan ini diperkirakan dialami oleh 85 persen perempuan di dunia dengan level PMS yang wajar. Tapi sisanya diprediksi level kumpulan gejala yang muncul lebih berat hingga mengganggu rutinitas harian dan kehangatan hubungan berpacaran atau suami-isteri, ini disebut dengan premenstrual dysphoric disorder (PMDD).

Hal yang menarik mengenai PMS adalah kumpulan gejala-gejala itu tidak hanya dipengaruhi perubahan hormonal yang terjadi di dalam tubuh perempuan, tapi juga ada faktor secara sosial, kebudayaan, biologis, dan psikologis.

Jadi ada sebuah penelitian yang dilakukan pada 1977 lalu oleh DN. Ruble. Kesimpulan penelitian Ruble adalah PMS juga dipengaruhi oleh faktor kesepakatan sosial. Bagaimana faktor sosial  bisa memengaruhi PMS? Bagaimana masyarakat mendefinisikan PMS membuat perempuan merasa mengalami PMS ketika acuan gejalanya mereka alami. Acuan gejala seperti apa yang dimaksud? Cepat bosan, perasaan menjadi lebih sensitif, dan emosional disepakati sebagai gejala spesifik yang dialami perempuan. Ini membuat perempuan merasa dirinya sedang PMS ketika gejala-gejala itu mendekat, meski pada jam biologisnya masa menstruasi bisa saja belum terjadi.

Penelitian lain juga pernah dilakukan pada 1999. Di penelitian ini, para responden diminta untuk menyaksikan video yang bercerita mengenai gejala-gejala PMS. Hasilnya usai menyaksikan video itu, para responden berkeyakinan kalau mereka mengalami PMS. Beberapa dari mereka bahkan merasa gejalanya semakin berat pasca mendapat info mengenai PMS.

Kedua penelitian inilah yang membentuk satu persepsi bahwa PMS merupakan hasil kesepakatan sosial terhadap apa yang umum dialami perempuan menjelang menstruasi. Bahkan penelitian lain mengungkapkan, dari 80 persen perempuan yang menyatakan diri mengalamai PMS ternyata hanya 20-30 persen diantaranya yang benar-benar mengalami PMS.

Tapi ada poin lain yang juga menarik untuk disimak dari kesimpulan PMS sebagai hasil kesepakatan sosial tersebut, yaitu PMS memang menimbulkan ketidaknyaman pada tubuh perempuan. Dan ini bertalian dengan penjelasan medis mengenai mengapa tubuh perempuan menjadi sangat tidak nyaman ketika sel telur mulai menunjukkan tanda-tanda kematangan.

Dunia kedokteran melalui beragam penelitian medisnya mengungkapkan hormon estrogen dan progesteron yang menjadi sangat ‘ababil’ menjelang proses pematangan sel telur membuat neurotransmitter di otak kita mengeluarkan berbagai reaksi kimia. Ini kemudian memengaruhi sistem kerja tubuh dan emosi. Neurotransmitter adalah agen kimiawi yang berperan mentransmisi impuls dalam sistem saraf. Bahasa sederhananya adalah komunikasi kimiawi yang terjadi di dalam sistem saraf untuk memerintahkan tubuh melakukan atau merasakan sesuatu.

Para peneliti menyebutkan neurotransmitter yang ikut bereaksi ketika estrogen dan progesteron tidak stabil serta memicu terjadinya PMS adalah:

  • Serotonin : Ini adalah hormon yang meregulasi mood serta pola tidur kita. Hormon ini juga membuat kita merasa nyaman terhadap diri kita. Dan ketika hormon estrogen menurun drastis, pada fase luteal atau ketika sel telur lepas dari indung telur, serotonin ikut ngedrop yang kemudian membuat tubuh merasa lebih rentan, emosi menjadi tidak stabil, mudah marah, bahkan sampai merasa depresi. Serotonin yang berkurang juga membuat tubuh merasa selalu kekurangan karbohidrat, dari sinilah dorongan nafsu makan terjadi mendekati menstruasi terjadi.
  • Gamma-aminobutric acid (GABA) : Adalah neurotransmiter yang membuat kita merasa cepat lelah dan depresi. Sebabnya adalah hormon progesteron yang tidak stabil membuat GABA menjadi lebih aktif.
  • Endorfin : Ini adalah hormon yang membuat kita merasa bahagia dan tidak mudah merasa nyeri. Dan ketika estrogen serta progesteron ikut merosot, maka endorfin pun kehilangan pegangan hingga ikut ‘terjun bebas’. Alhasil tubuh perempuan menjadi lebih sensitif hingga mudah merasa nyeri.
  • Neropinephire dan Epinephiren : Keduanya adalah hormon ini mengatur bagaimana tubuh meresponi stres yang kita alami. Estrogen yang tidak stabil membuat keduanya aktif yang kemudian membuat tekanan darah serta detak jantung perempuan ikut tidak stabil, plus mereka menjadi mudah sekali marah atau sedih.

Tapi sebenarnya situasi yang penuh drama kelabilan hormon ini bisa disiasati, sebab tubuh kita dipersenjatai dengan sistem kerja yang luar biasa sempurna. Maka ketika pasangan atau Anda sendiri merasa akan mendekati masa pematangan sel telur, cobalah lakukan ini:

  1. Olahraga : Rajin berolahraga akan menjaga mood sambil membuat tubuh tidak cepat merasa lelah. Agar PMS tidak terasa begitu ‘menyakitkan’ lakukanlah olahraga secara teratur, meski hanya 30 menit, setidaknya berolahragalah setiap hari. Bahkan jalan kaki santai selama 30 menit saja sudah bisa membebaskan pasangan atau Anda dari ‘drama PMS’.
  2. Perbanyak konsumsi vitamin B: Banyak penelitian telah berhasil membuktikan, ketika tubuh memiliki asupan vitamin B yang cukup maka berbagai ‘drama PMS’ tidak akan muncul. Sebuah studi bahkan melakukan penelitiannya terhadap 2.000 perempuan dan mengamati mereka selama 10 tahun. Penelitian ini menyimpulkan, responden yang rajin mengonsumsi kacang-kacangan, telur, dan olahan susu, lebih merasakan PSM. Usahakan untuk menikmati makanan alami yang mengandung vitamin B, sebab suplemen tidak memberikan efek yang signifikan.
  3. Dekatkan mulut pada karbohidrat kompleks: Karbohidrat kompleks seperti gandum utuh dan sereal adalah makanan yang kaya akan serat. Ini akan membuat kadar gula darah tetap stabil dan membebaskan pasangan atau Anda dari mood swing, bahkan bisa membebaskan diri dari nafsu makan yang tidak terkendali!
  4. Hindari yang asin dan manis: Asupan makanan dengan kadar garam yang tinggi hanya akan membuat perut cepat mual. Sedangkan untuk makanan atau minuman manis hanya akan membuat tubuh merasa kelaparan lebih cepat.
  5. Say no to alcohol: Minuman ini hanya akan membuat mood swing pasangan atau Anda semakin parah.
  6. Tenangkan diri dengan relaksasi: Agar tubuh pasangan atau Anda merasa lebih tenang, lakukanlah relaksasi bisa dengan yoga atau meditasi. Bahkan aktivitas simpel seperti menulis buku harian, blog, mendengarkan musik atau curhat kepada teman bisa menjadi rilekasasi yang murah dan meriah.

Jika semua proses dan reaksi telah dipahami maka kita sudah sampai pada kebutuhan untuk mendengar apa yang dibutuhkan tubuh. Pemahaman inilah yang akan menjadi modal untuk lebih produktif dan hidup bahagia.

 

Foto dari sini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *