Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

Racikan Kimiawi Cinta Untuk Kehidupan

Mereka bilang, cinta itu suatu perasaan yang diciptakan otak untuk membuat manusia merasa tenang. Dari sini lahirlah kepercayaan bahwa cinta itu perasaan logis yang lahir dari kebutuhan manusia, bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Tapi tak semua sepakat, ada yang percaya bahwa cinta itu sesuatu yang di luar akal sehat. Contohnya mereka yang mencintai boneka atau disebut sebagai pygmalion, meski memilih pasangan yang bukan mahluk hidup mereka sangat yakin bahwa cintanya tulus. Jadi sebenarnya apa batasan dari sebuah perasaan cinta?

Rumus Ketertarikan

Jika berbicara soal ketertarikan kita mungkin ingat pada pantun ini:

Dari mana datangnya lintah?
Dari sawah turun ke kali.
Dari mana datangnya cinta?
Dari mata turun ke hati.

Tenang, Medja Makan tidak sedang melakukan kompetisi raja gombal, tapi pantun itu cukup jeli menggambarkan bagaimana sebuah ketertarikan berawal. Secara sederhana, perasaan cinta dipancing ketika kita merasa tertarik atas eksistensi seseorang. Dan definisi menarik itu sangatlah luas, tapi secara general kita merasa tertarik pada seseorang biasanya karena tampilan visual yang diberikan.

Tampilan visual ini kemudian dilengkapi dengan saringan atribut sosial lainnya, mulai dari latar belakang pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, keluarga. Sebagian besar masyarakat kita menyebutnya sebagai, bibit, bebet, dan bobot. Kenali dahulu pasanganmu baru putuskan untuk bercinta.

Tapi sebelum menelusup masuk pada keputusan bercinta, Helen Fisher, profesor Antropologi dari Rutgers University, mengungkapkan bahwa ketertarikan awal muncul justru bukan karena tampilan visual tapi karena orang tersebut menebarkan energi misterius. “Saat kita penasaran akan siapa sesungguhnya orang yang sedang menarik perhatian, itu lah momen di mana kemisteriusan telah menjadi pemicu daya tarik. Aura misterius telah menantang kita untuk menemukan jawaban atas rasa penasaran,” demikian Fisher membeberkan pengamatannya.

Dan seringnya, lanjut Fisher, seseorang dengan karakter yang bertolak belakanglah yang menciptakan aura misterius yang besar. Perasaan tertantang muncul, selain karena kita merasa ingin bisa menaklukkan orang yang berbeda dengan kita juga karena secara tidak disadari kita terdorong untuk menciptakan ‘bibit keturunan’ yang variatif. “Saat dua orang dengan karakter dan keahlian bertolak belakang bertemu, mereka dapat ‘mengumpulkan’ DNA mereka menjadi lebih beragam. Ini membuat keturunan mereka berpeluang memiliki kualitas yang menarik,” ucap penulis Why We Love : The Nature and Chemistry of Romantic Love ini.

Jadi apa ini berarti tampilan fisik tidak begitu besar memberi pengaruh pada kemampuan kita untuk tertarik pada seseorang? Atau dalam bahasa awamnya, jadi fisik ngga ngaruh ya? Kalau menurut Louann Brizendine, profesor klinis dari Psychiatry di University of California, baik laki-laki maupun perempuan, dua-duanya melihat tampilan fisik sebagai syarat pertama untuk memilih tertarik atau penasaran pada seseorang atau tidak.

Tapi memang, Brizendine melanjutkan, para kaum Adamlah yang lebih menitik beratkan pada tampilan fisik. “Penyebabnya adalah karena sistem kerja otak laki-laki lebih aktif ketika mendapatkan informasi visual. Sedangkan pada perempuan, selain informasi visual mereka juga mengasosiasikannya dengan otak bagian analisa pilihan.” Ini artinya, perempuan akan membutuhkan proses pengenalan lebih dalam untuk kemudian merasakan jatuh cinta atau tidak.

Cinta itu buta ngga sih?

Kalau dilihat dari bagaimana proses ketertarikan terjadinya, rasanya semua begitu terkonsep ya. Apa itu menunjukkan bahwa cinta buta itu ngga ada. Love is not blind baby. Demikiankah adanya?

Love maybe blind but it can see in the dark…wait ini bukan tulisan tentang review serial Dark Justice. Tapi menurut profesor neuroscience dari Albert Einstein College of Medicine, Lucy Brown, PhD., cinta tak sepenuhnya buta tapi tak sepenuhnya sadar juga. Begini Brown menjelaskan, saat kita sedang menjalani satu hubungan dengan orang yang kita cintai, sebenarnya kita sadar akan kelemahan atau keburukannya. Tapi otak kita memberikan toleransi untuk itu dengan mengatakan hal itu biasa saja jadi kelemahan atau keburukan pasangan bisa diabaikan.

Brown tidak sedang menceritakan pengalaman pribadinya, kesimpulan itu didapat  dari penelitian yang dilakukannya. Yup, Brown adalah dokter saraf yang mengambil spesialisasi mempelajari bagaimana respon otak terhadap perasaan cinta.

Melengkapi pernyataan Brown, Wellcome Departemen Neuroimagining dari University University College di London menemukan fakta bagaimana otak bereaksi saat kita sedang dipenuhi perasaan cinta.¬† Pada scan otak yang dilakukan pada orang yang sedang jatuh cinta terlihat, bagian otak yang mengatur tentang penilaian sosial dan emosi negatif dalam keadaan ‘tertidur’ alias menjadi tidak aktif. Ini masih dilengkapi dengan bagian otak yang memicu kita untuk berpikir kritis, ikut mengalami penumpulan. Dan ini pun diamini oleh Fisher, “Ketertarikan yang diikuti perasaan cinta akan membuat seseorang melupakan penilaian negatif yang menyusup pelan-pelan. Dari sinilah definisi cinta buta berasal.”

Alhasil si dia pun menjadi begitu sempurna di depan kita. Hal ini menurut penelitian, terjadi juga karena jatuh cinta telah memformulasikan zat kimiawi tertentu dalam otak. Hormon serotonin atau hormon cinta muncul dengan sangat dasyat yang berasosiasi dengan keadaan di mana kita seolah-olah tengah mengalami obsessive-compulsive disorder (OCD). OCD membuat otak suka memerintahkan kita untuk mengulang-ulang yang kita lakukan, dalam kondisi jatuh cinta, kegiatan yang dilakukan berulang-ulang adalah mengingat tentang pujaan hati. Ini masih diikuti dengan produksi hormon kortisol yang membuat jantung bekerja lebih cepat, dari sinilah datangnya rasa deg-degan ketika mengingat kekasih hati.

Menariknya lagi, dalam keadaan tersebut, bagian otak yang memproduksi dan menerima dopamin – neurotransmiter yang berhubungan dengan peningkatan kebiasaan adiktif – ikut melonjak. Hal yang sama juga terjadi pada penjudi dan pengguna narkoba yang membuat mereka kesulitan untuk melepaskan kebiasaan buruk, karena sudah terakdiksi. Lalu apa yang terjadi pada mereka yang sedang jatuh cinta? “Dopamin membuat kita merasa tidak pernah cukup. Kita terstimulasi untuk ‘memenangkan’ atau memiliki orang tersebut secara utuh, dan ketika ini terjadi makan produksi kimiawi dalam otak kembali stabil,” papar Fisher.

Dapat dibayangkan apa yang terjadi kalau orang yang menarik perhatian menolak cinta atau ketika kekasih hati memutuskan kita, efek kecanduan menimbulkan rasa kangen yang luar biasa sehingga menciptakan kondisi ‘sakaw’ atau kehilangan yang dalam. “Kita bisa menyiksa diri habis-habisan karena kimiawi otak memicu untuk terus membutuhkan diri kita tapi bisa juga justru menjauhkan diri dari pujaan hati untuk mematikan tombol kecanduan. Pilihannya ada di batas nalar Anda,” ucap Fisher.

Monogami vs Poligami

Jika melihat begitu kompleks-nya reaksi tubuh dan otak terhadap perasaan cinta, lalu apakah tahapan berkomitmen merupakan kebutuhan atau justru efek domino dari reaksi kimia otak? Brown menyakini bahwa manusia adalah ‘perangkat’ yang harus selalu bersama. Sebab ketika kita merasa nyaman bersama seseorang atau menjalin hubungan cinta dengan seseorang, maka otak mulau memproduksi oksitosin dan vasopressin. Mau tahu nama lain dari kedua zat kimiawi otak itu?Cuddle hormones alias hormon yang membuat kita merasa butuh untuk bersama dan bermanja-manja.

Diskusi santai, sentuhan lembut, bisikan manja, sampai ritual bercinta akan meningkatkan cuddle hormones ke seluruh bagian tubuh. Dari sinilah kebutuhan untuk selalu bersama, berkomitmen, dan setia terhadap pasangan muncul sebab kedua hormon itu juga menciptakan stabilitas di dalam otak untuk kembali berpikir apakah kita cukup bisa menerima kekurangan dari sang pujaan hati. “Saat kesiapan ini muncul dari sanalah datangnya kebutuhan untuk berkomitmen atau tidak,” Brown menyakinkan.

Dan tahu fakta apa lagi yang menarik? Vasopressin, ternyata adalah hormon yang membuat manusia sebagai spesies mamalia lebih memilih monogami ketimbang poligami. Ini diketahui dari penelitian yang dilakukan oleh Emory University terhadap 2 jenis tikus, yaitu prairie vole dan meadow vole. Tikus prairie vole adalah tikus yang menciptakan ikatan monogami pada hubungan percintaan mereka, sedangkan meadow vole menganut paham poligami. Para peneliti kemudian menyuntikan tikus jantan meadow vole dengan gen yang bertanggung jawab untuk melepaskan vasopressin di dalam otak, hasilnya dengan secepat kilat para tikus jantan yang suka berkelana itu pun menjadi penganut ikatan cinta monogami.

Jadi karena di dalam tubuh manusia ada vasopressin, maka kebutuhan untuk berkomitmen dan setia dalam bercinta sebenarnya mendarah daging. Tapi para peneliti juga menemukan fakta, pada beberapa individual vasopressin-nya tidak sensitif bekerja, sedangkan pada individual lainnya vasopressin bekerja dengan sangat baik. “Itu mengapa ada orang yang bisa bertahan menghabiskan hidup bersama seseorang selama 50 tahun lebih meski sebagian besar dari proses berbagi hidup itu penuh dengan kesedihan dan kekerasan,” ucap Melvin Konner, MD., profesor anthropology and behavioral biology dari Emory.

Lalu apa yang membuat kita yakin untuk terus jatuh cinta pada kekasih hati?

Jawabannya adalah hormon dan romantisme. Universities of Pavia and Pisa di Itali mengungkapkan, 2 tahun pertama adalah masa-masa di mana fluktuasi hormon dopamin, oksitosin, serotonin, bisa mencapai titik stabil. Selama 2 tahun pertama itu juga semua euforia cinta bisa terjawab dengan logis atau tidak.

Dan ketika kita merasa yakin untuk terus bersama, berterima kasihlah pada ketulusan yang secara disadari selalu mengisi perjalanan hubungan kita dengan pasangan. Perasaan tulus yang muncul ketika kita dengan pasangan berhasil melalui peristiwa-peristiwa yang membuat kita berpikir logis ditengah ‘serangan’ euforia cinta. Bahkan penelitian menyakinkan, sentuhan sederhana seperti bergandengan tangan bisa menciptakan ketulusan dalam keterikatan hubungan. Sebab sentuhan fisik yang sederhana itu menjaga hormon cinta kita pada batas wajar.

Jadi sudah siap untuk jatuh cinta? Siap juga untuk berkomitmen untuk kemudian memilih jatuh cinta dengan pasangan setiap hari? Jika sudah siap maka, “Selamat Bercinta!”

foto dari sini

 

2 Comments

  1. bear

    jadi idealnya pacaran dulu kurang lebih 2 tahun sebelum mengambil keputusan untuk naik tingkat ya?

    Reply
  2. Pelayan Medja Makan (Post author)

    Berdasarkan rumus hasil penelitian Universities of Pavia and Pisa sih begitu ya idealnya. Tapi kan selama kita bisa tetap sadar dalam euforia, rasanya batasan 2 tahun itu menjadi sangat lentur. Pertanyaan baru kemudian muncul? Bisakah kita sadar ketika euforia ;D

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *