Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

Mencintai = Melindungi

“It’s a love; nothing is more serious than love.”

Itu adalah bagaimana salah satu narasumber yang sekaligus sahabat Medja Makan , Ethan (bukan nama sebenarnya-red) mendeskripsikan tentang komitmen dalam menjalin satu hubungan. Ethan, 25 tahun, fashion stylish dan sangat mencintai kekasihnya, Jack.

Dengan air muka yang berbinar-binar, Ethan bercerita, Jack adalah kekasihnya yang paling menerima dia apa adanya. “Banyak orang yang nganggep the thing that I am doing for a living is not something serious. They only believe that fashion is a world of spending what I have or for some people around it. Tapi dia bisa terima dengan lapang dada and he loves me, that’s the thing.”

Dan seperti orang kebanyakan yang sedang mabuk kepayang, mengekspresikan cinta adalah salah satu cara paling sederhana untuk menikmati proses jatuh cinta. Meski jarak mereka berjauhan, tapi Ethan tetap menemukan cara untuk memberikan kejutan-kejutan manis seperti mengirimkan cokelat, mengirimkan voice note mesra melalui smartphone, dan membelikan cincin bergrafir ‘I love you’ sebagai simbol bahwa dirinya tengah menjalani hubungan yang serius dengan seseorang.

Lalu Medja Makan-pun menanyakan satu pertanyaan serius kepada Ethan. “How you guys define safe sex?” “Of course with condom and we commit to be faithful each other.That’s our commitment,” jawabnya dengan sangat yakin.

Bagi Ethan, menggunakan kondom adalah standar baku yang diterapkan untuk dirinya dan pasangan setiap kali melakukan hubungan seksual. wajib hukumnya dalam melakuan hubungan seksual. “If someone that is about to build relationship with me but he can’t fulfill my important term, I can easily ditch him without any thinking deeds.”

Pernyataan tegas ini juga dilengkapi Ethan dengan menerapkan sesi ‘interograsi’ pada pasangannya. “Aku perlu tahu kapan terakhir kali dia melakukan hubungan seksual. Buat Ethan, mencari tahu kapan terakhir kali pasangannya melakukan hubungan seksual bukan sekadar untuk melindungi dirinya tapi juga untuk menentukan tipe pria seperti apa yang tengah dihadapinya. “Kita bisa tahu apa dia tipe yang craving for sex only atau memang looking for a serious relationship.

Dengan lincah Ethan menjelaskan, jika antara proses pendekatan dengan hubungan seksual terakhir kali jaraknya semakin jauh  maka dia bukanlah tipe yang sedang mencari kesenangan. Yang harus diwaspadai adalah tipe sebaliknya, “Yang jarak ketika melakukan pendekatan dengan kita dan hubungan seksual terakhirnya berdekatan. Ini tipe menizer in term of homoseksual atau womanizer in term of heteroseksual,”

Dengan menerapkan standar hubungan seksual yang sehat, Ethan percaya adalah usaha sadar yang dapat dilakukannya untuk menekan risiko penyakit menular seksual atau dalam bahasanya, “I don’t want to get sick just because of making love incautiously. 

Kesadaran ini juga terbentuk karena Ethan tahu betul risiko penularan penyakit seksual, khususnya HIV/AIDS ada karena tidak mendisplinkan diri dalam menikmati hubungan seksual. “Heterosexual relationship saja bisa kena HIV/AIDS dengan mudah, tidak terkecuali dengan yang homosexual. Terlalu banyak hal yang bikin aku ngga insecure mengenai melakukan hubungan seksual dengan orang lain, itu mengapa aku menjadikan safe sex sebagai cara untuk melindungi diri sendiri.”

Kesadaran diri ini pun kemudian bertalian dengan dorongan seksual Ethan. Keinginan untuk bercinta itu bisa luntur ketika kondom tidak tersedia atau pasangan menolak untuk menggunakan kondom. “Lebih baik ngga bercinta deh ketimbang ketakutan ketularan penyakit seksual.”

Tapi memang kewaspadaan ini juga muncul karena Ethan menyadari angka penularan HIV/AIDS pada kelompok homoseksual yang tinggi. Berdasarkan data yang dikeluarkan Ditjen PP&PL Kemenkes RI, hingga Desember 2011 kemarin, jumlah kumulatif kasus AIDS menurut faktor risiko pada homo-biseksual ada sebanyak 807 kasus. Tapi fakta juga berbicara, faktor risiko bukan hanya ada pada kelomok homo-biseksual melainkan pada kelompok heteroseksual yang mencapai 14.775 kasus.

Dan jika lebih dikerucutkan lagi, para heteroseksual yang berisiko paling tinggi adalah para ibu rumah tangga. Mengapa? Berdasarkan riset yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, ada lebih dari 3 juta laki-laki yang melakukan transaksi seksual dengan para pekerja seks. Seperti yang dilansir Tempo.co angka 3 juta itu menyumbang angka penularan yang tinggi kepada ibu rumah tangga. Menurut riset tersebut, ada 214 ribu pelacur di seluruh Indonesia dan jumlah ini dikunjungi oleh lebih dari 3 juta laki-laki yang membuat satu pekerja seks dikunjungi 15 lelaki berisiko tinggi. Inilah yang menjadikan angka penyebaran HIV/AIDS di Indonesia semakin tinggi.

Data Ditjen PP&PL Kemenkes RI-pun kemudian menempatkan kelompok heteroseksual menduduki peringkat pertama dalam jumlah kumulatif kasus AIDS berdasarkan faktor risiko. Berbanding lurus dengan ini, yang terjadi secara nyata adalah dalam kurun waktu 5 tahun, kasus AIDS karena hubungan seksual meningkat dua kali lipat. Jika di 2006, kasus infeksi HIV dari hubungan seks berisiko mencapai 38 persen dari keseluruhan yang terjadi di pertengahan 2011 kemarin adalah, angkanya melompat naik menjadi 76 persen.

Jika dilengkapi dengan data yang dimiliki Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), perempuan adalah yang paling rentan terhadap penularan HIV/AIDS melalui huungan seks berisiko. Peningkatannya sangat tajam. Jika di 2006 perempuan yang terinfeksi HIV atau AIDS ada sebanyak 16,9 persen. Dan kemudian angkanya menjadi 35 persen baru pada pertengahan 2011. Sekretaris KPAN, Kemal Siregar, seperti yang dikutip dari Tempo.co; perempuan paling rentan karena banyak laki-laki yang membeli seks dari pekerja seks komersial yang kemudian menginfeksi isteri atau pasangannya.

Fakta ini membuat Medja Makan tertarik untuk mencari tahu seberapa aware para ibu rumah tangga mengenai risiko penularan penyakit seksual. Survei kecil-kecilan pun Medja Makan lakukan terhadap 5 orang perempuan yang sudah menikah. Secara umum mereka paham betul akan risiko penularan penyakit seksual, beberapa diantara mereka bahkan mendiskusikannya dengan suami yang kemudian merujuk pada komitmen untuk hubungan seksual yang sehat.

Dan ini kemudian bermuara pada alat kontrasepsi yang dipilih untuk melindungi pasangan. Tapi sebagian besar responden survei mendasarkan pemilihan menjadi konseptor KB karena ingin merencanakan keluarga, alhasil metode yang dipilih pun mayoritas IUD, pil, hitung masa subur, atau suntik hormon. Bagaimana dengan kondom?

Para pasangan yang sudah menikah merasa kondom, bukanlah pilihan untuk mereka. “Kan sudah halal, ngapain harus pakai kondom?” atau “Katanya pakai kondom ngga enak.” Benarkah demikian?

Dari 5 responden, ada 2 responden yang memilih kondom sebagai aplikasi dari komitmen safe sex antara dirinya dengan suami. Responden pertama adalah Sari, 25 tahun dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga.

Ibu beranak satu ini memang menjadikan kondom sebagai metode perencanaan anak. Setelah anak pertamanya lahir, dia dan suami sepakat untuk menggunakan kondom sebagai alat kontrasepsi. “Kenapa pakai kondom, karena praktis.”

Sari kemudian bercerita, dirinya tidak memilih pil KB karena berkaca pada pengalaman kakaknya yang hamil karena tidak teratur minum pil. Dia tidak tertarik dengan metode suntik hormon, “gua ngga suka disuntik. Jadinya milihnya kondom.”

Dan ketika ditelisik ke belakang, Sari ingat, pilihan kondom keluar pertama kali dari suaminya. “Dari awal dia yang rajin beli kondom. Setelah melahirkan anak pertama, dia selalu stok kondom.” Alhasil semenjak itu, Sari dan suaminya terbiasa menggunakan kondom setiap kali berhubungan seksual. Bahkan sama dengan Ethan, dorongan seksual bisa hilang tiba-tiba ketika menyadari persediaan kondom tidak ada. “Wajib hukumnya, karena tujuanya belum mau nambah anak.”

Senada dengan Sari adalah Tita. Bedanya adalah Tita dan suami, menjadikan kondom sebagai bentuk lain dari berbagi peran.

Secara filosofis, perempuan 43 tahun ini bercerita, suami menggunakan kondom bukan berarti dirinya khawatir akan kelakuan suaminya tapi lebih kepada berbagi peran. Ketika keduanya sama-sama sepakat untuk memiliki anak, sebagai perempuan, Tita sudah menjalani proses mengandung, melahirkan, dan mengalami sakitnya melahirkan.

Dan ketika keduanya sepakat untuk melakukan keluarga berencana, suaminya yang berinisiatif untuk mengambil peran sebagai konseptor aktif dengan menggunakan kondom. Tapi tak hanya itu, pembagian peran juga terjadi ketika hubungan seksual belum dilakukan. “Aku membelikan kondom dan memastikan persediaanya selalu ada di rumah. Aku yang ambil dan siapin kondomnya dari lemari, jadi keduanya terlibat aktif dan sadar betul akan perannya dalam menciptakan hubungan seksual yang sehat.”

Ini pun membuat Tita dan suami memiliki definisi sendiri akan melayani pasangan, khususnya untuk Tita. “Buat gua, melayani suami dalam konteks hubungan seksual adalah berbagi peran untuk saling memahami bagaimana sama-sama mencapai orgasme.”

Itu mengapa definisi safe sex bagi Tita adalah bukan sekadar menjaga kesetiaan tapi juga berhati-hati. Tita dan suaminya paham betul penularan penyakit seksual dan HIV/AIDS itu bukan hanya melalui jarum suntik tapi bisa juga karena ada bagian tubuh yang terbuka terkena darah orang yang terinfeksi. Jadi ketika dirinya mendiskusikan penyakit menular seksual bersama suami, bukan kepada kekhawatiran akan perselingkuhan tapi lebih kepada selalu berhati-hati.

Dan ketika ditanya, benarkah ada rasa ketidaknyamanan saat memakai kondom? Tita yang bersama suaminya sudah menjadikan kondom sebagai alat kontrasepsi dan pengaman selama 15 tahun ini menjawab, “Proses berbagi peran ketika berhubungan seksual membuat kita belajar bagaimana untuk memahami kondisi nyaman untuk pasangan. Timing yang pas untuk memakai kondom adalah kuncinya. Gimana bisa tahu timing-nya? Inilah enaknya hubungan suami-isteri, lu bisa ngomongin apa aja demi kenikmatan bersama,” ucapnya dengan pasti.

Hal yang menarik adalah, meski Ethan, Sari, dan Tita mengalami proses yang berbeda mengenai hubungan seksual yang sehat tapi ketiganya percaya bahwa orgasme bukan satu-satunya yang dikejar ketika memiliki satu hubungan intim dengan pasangan. Kenyamanan dan kesadaran untuk melindungi pasangan dari risiko penularan penyakit seksual juga menjadi definisi real atas bagaimana menghargai komitmen yang sudah dibentuk. Karena safe sex atau hubungan seksual yang sehat adalah bagaimana kita melindungi pasangan untuk mencintai diri sendiri.

 

Sumber Tulisan :

http://www.yaids.com/data/Data%20kasus%20Desember%202011.pdf

http://www.tempo.co/read/news/2012/07/23/173418592/3-Juta-Lelaki-Indonesia-Kunjungi-Pelacur

1 Comment

  1. Pingback: Our First Achievement | Medja Makan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *