Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

Gaya Hidup Urban: Kurang Tidur?!?

kurang tidur

Foto: Dreamstime

Pernah memperhatikan apa yang dilakukan pekerja kantoran kalau mereka sedang berada di dalam angkutan umum? Dari pengamatan Medja Makan, bermain gadget atau tidur adalah aktivitas yang dilakukan secara berjamaah ketika harus berjejal di dalam angkutan umum.

Bahkan dalam posisi berdiri dan mencengkram pegangan di dalam bis sekalipun, para pekerja kantoran ini bisa bermain gadget atau tidur. Betul sekali, tidur sambil berdiri. Ini hebat atau justru kasian ya?

Ketika belum berhasil mengkategorikan tidur dengan posisi berdiri di dalam bis adalah sebuah kehebatan atau justru sebaliknya, Medja Makan pun semakin penasaran dengan seberapa banyak orang yang tertidur di dalam bis. Maka survei kecil-kecilan pun dilakukan.

Berhubung Medja Makan termasuk pengguna angkutan umum yang setia, maka survei dengan metode pengamatan sangat mudah dilakukan. Perbandingannya, dari 6-12 bangku yang tersedia pada satu sisi bus TransJakarta, penumpang yang menutup mata dan menundukkan kepala alias tidur ada sebanyak 50 persen. Bahkan ada diantara mereka yang tidurnya sangat pulas, kadang-kadang dengan kepala menengadah ke atas dan mulut terbuka atau kepala miring sampai bersandar di bahu ‘tetangga’ sebelah. Malah pernah juga ketemu sama penumpang yang sama-sama ketiduran dan kedua kepala bertemu owww…so sweet. But (again) is it sweet?

Melihat situasi ini, Medja Makan pun bertanya pada ahlinya. Iya ahli tentang kesehatan tidur yang sudah beberapa kali diwawancara oleh Medja Makan, dr. Andreas Prasadja, RPSGT, dari Sleep Disorder Clinic-RS. Mitra Kemayoran. Pertanyaanya pertamanya pun sederhana, sebenarnya efektifkan melelapkan diri di dalam bis yang penuh, panas, dan jalan dengan kebut-kebutan? Dokter yang aktif main twitter dengan akun @prasadja ini bilang, “Sebenarnya tidak efektif. Tapi lumayanlah dari pada tidak.”

Dan kalau mau ditelisik lebih dalam, lanjut dokter Andreas, situasi ini juga menggambarkan tidak sedikit dari masyarakat kita yang punya hutang tidur sangat banyak.

Iya, dalam dunia kesehatan tidur, ketika kita tidak memenuhi hak tubuh untuk beristirahat dalam hal ini dengan tidur, maka artinya kita menambah saldo hutang tidur. Dan prinsipnya seperti yang diajarkan oleh semua agama, hutang itu wajib hukumnya untuk dilunasi. Wait…terlalu berat kalau harus nyangkutin ke agama karena Medja Makan bukan Mamah Dedeh 😀

Hutang tidur atau kondisi dimana seseorang kurang tidur akan memengaruhi kebugaran dan kesehatan tubuh dalam banyak hal. Hutang tidur akan membuat otak kita tidak fokus, karena sebenarnya di saat tidur itulah otak melakukan ‘rekam ulang’ atas semua informasi yang diterima sepanjang kita terjaga. Dan seperti yang pernah dibahas oleh Medja Makan mengenai efek samping dari kurang tidur, tidak memberikan tubuh hak untuk beristirahat juga bisa bikin perut buncit. Apa kaitannya kurang tidur dengan perut buncit? Kurang tidur, bikin nafsu makan kita jadi berlipat ganda! Ini ulasan lengkapnya

Nah melihat banyak yang terkantuk-kantuk ketika di dalam angkutan umum, dokter Andreas tentu sangat prihatin. Dengan situasi angkutan umum yang jauh dari definisi nyaman, para penumpang masih bisa melelapkan diri dalam tidur. “Kasihan loh, ini artinya mereka ngantuk banget, hutang tidurnya besar.”

Lalu apakah tidur di dalam kendaraan umum itu secara kualitas baik? “Bisa jadi cukup baik, karena masih harus ditanyakan juga ke mereka. Apakah ketika bangun, badan terasa segar. Kalau segar, berarti kualitasnya cukup baik. Tapi jika segar dan beberapa waktu kemudian ngantuk lagi, berarti kualitas tidur cukup hanya saja hutang tidurnya masih ada. Dengan kata lain, durasi tidurnya masih kurang.”

Jalan Jakarta yang selalu penuh dan ramai memang membuat ‘penghuninya’ harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam. Berangkat lebih pagi agar bisa sampai di kantor tepat waktu atau syukur-syukur tiba lebih cepat. Dan pulang lebih malam dipilih karena ‘mendekam’ di jalanan yang kendaraannya sulit bergerak adalah hal yang tidak menyenangkan. Jadi lebih baik pulang lebih malam agar waktu tempuhnya tidak terlalu lama.

Ok siapa yang mulai mengangguk-anggukan kepala karena merasa menjadi pelaku rutinitas tersebut? Strategi berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam dipilih karena jalanan Jakarta memang sukar ditaklukkan.

Sukar ditaklukkan karena kemacetan terjadi hampir di seluruh ruas jalan. Bahkan di jalan-jalan ‘tikus’ sekali pun, kita masih harus rela jalan tersendat-sendat karena banyak juga orang yang berpikir mempersingkat waktu melalui jalan tersebut. Alhasil diperlukan waktu kurang lebih 1,5-2 jam untuk mengantarkan diri ke kantor dan durasi yang sama untuk memulangkan diri ke rumah.

Bayangkan seminggu kita menghabiskan waktu di jalan 4 jam hanya untuk pulang pergi dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Dan kalau dikali dengan hari kerja Senin-Jumat, maka dalam seminggu kita telah berada di jalanan selama 20 jam yang kalau diakumulasikan dalam 4 minggu menjadi 80 jam. Yup the road makes us older.

Belakangan durasi terjebak macet di jalan, makin panjang. Jika dulu kemacetan hanya terjadi di jam-jam pergi dan pulang kantor, kali ini hampir di setiap jam jalanan Jakarta selalu dijejali kendaraan.

Dan kemacetan semakin dipastikan terjadi ketika hujan membasahi Jakarta atau ketika Jumat malam bertepatan dengan tanggal baru gajian. Hujan membuat jalanan digenangi air dan kendaraan pun melambat. Belum lagi kendaraan roda dua yang berteduh di tepi atau underpass membuat kendaraan lainnya berjalan melambat. Dan Jumat yang berarsiran dengan tanggal gajian membuat semua orang ‘bererdar’ sehingga jalanan pun makin dipenuhi dengan kendaraan-kendaraan.

Yup… kemacetan seolah tak kenal waktu libur di Jakarta, terlebih di hari kerja. Maka rela atau tidak rela, tertidur di kendaraan umum adalah jalan pintas untuk membayar hutang tidur. Bahkan menurut dokter Andreas, tidak jarang para pekerja kantoran itu pun menggantungkan diri pada produk suplemen yang misi jualannya adalah membuat mata tetap terjaga. “Ini memprihatikan karena artinya banyak orang Jakarta yang mengantuk karena suplemen tersebut laku di pasaran.”

Pembuat suplemen tidak salah, karena memang mereka melihat potensi pasar yang besar dari orang-orang Jakarta yang mengantuk. “Dan suplemen ini tidak hanya laku di Jakarta tapi hampir di seluruh daerah, artinya Indonesia banyak yang mengantuk.” Apa yang dilakukan oleh suplemen yang bersifat stimulant adalah hanya membuat kita seolah berenergi. Karena bagaimanapun juga, hutang tidur membuat otak kelelahan dan emosi menjadi berantakan. “Contohnya minuman mengandung kafein, bergelas-gelas pun yang sudah kita nikmati kalau hutang tidur terus bertambah tidak akan membuat mata terjaga.”

Lalu bagaimana seharusnya mensiasati hutang tidur yang terus bertambah akibat kemacetan di jalanan Jakarta yang sulit untuk dihindari? “Tidur ketika sempat dan tidak membawa kendaraan.” Mengapa tidak membawa kendaraan? “Dari pada buang waktu dan emosi di kemacetan, lebih baik manfaatkan untuk tidur. Dan ketika jam istirahat siang, sisakan waktu untuk power nap,” dokter Andreas menyarankan.

Apa itu power nap? Tidur siang sejenak, cukup 15-20 menit. Ini menurut dokter Andreas akan membuat kita kembali berenergi, emosi kembali positif, dan kita pun kembali produktif.

Mendengar saran tidur siang sejenak atau power nap, berapa dari antara kita yang kemudian bereaksi “Ngga mungkin lah, tidur siang di kantor. Mending bayar hutang tidurnya pas weekend.”

Dokter Andreas kemudian memberikan analagi. Katakanlah, setiap hari kita memiliki hutang tidur 1 jam, dan 5 hari kerja menjadi 5 jam hutang tidur. Yang dilakukan kemudian, saat Sabtu dan Minggu, kita coba melunasi hutang tidur itu dengan tidur siang 2,5 jam sehari. Terbayarkah?

“Masalahnya kemampuan tidur siang kita sudah jauh berkurang. Orang dewasa (di atas 30 tahun) paling hanya mampu tidur 20-30 menit. Di saat kurang tidurnya sangat banyak, paling maksimal kita hanya bisa tidur 1 jam lebih. Ketika bangun pun badan tidak terasa segar.”

Hutang tidur, Andreas menambahkan, tidak bisa terbayar karena siklus tidur siang jauh lebih singkat disbanding malam. Satu siklus tidur malam tercapai dalam 120 menit, sedangkan siang hari hanya 20 menit. “Jadi, matematika bayar hutang tidurnya tak semudah itu.”

Maka untuk coba mengurang hutang tidur, Andreas menyarankan kita untuk merutinkan jadwal tidur. “Lalu tambahkan jam tidur 15 menit tiap minggunya. Setelah itu rasakan apakah Anda lebih bahagia atau produktif? Saya yakin, jawabannya iya,” tegas Andreas.

Dan saat hutang tidur habis, produktivitas kita akan berada pada level maksimal. Mengapa, tidur membuat otak bisa mengembalikan kemampuan kognitif, mental dan emosi. Segala stimulan, hanya menambah energi dan menunda kantuk. “Jadi mulai prioritaskan kesehatan tidur, pekerjaan tak akan ada habisnya. Tapi kebahagiaan bisa diraih saat ini juga, bahkan hanya dengan memberikan tubuh haknya untuk tidur berkualitas,” imbuh Andreas yang adalah dokter kesehatan tidur pertama di Indonesia.

So urban people get some rest to be more PRODUCTIVE!!!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *