Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

Dicari: Asuransi yang Cocok Untuk Freelancer?

freelancer kerja rumah_2Siapa yang ingin jadi bos untuk diri sendiri? Apa iya bisa? Sangat bisa, jadilah pekerja lepas atau freelancer.  

Seperti dilansir dari Kompas, setidaknya ada 61 persen orang Indonesia yang pernah menjadi freelancer. Bahkan saat ini tercatat ada 16 juta freelancer dari total 41 juta pekerja di Indonesia. Tetty Sulastri adalah salah satu diantara 16 juta freelancer yang dipunya Indonesia.   “Pengen jadi bos gua, bosen jadi karyawan mulu,” jawabnya santai.

Bagi Tetty yang paling membedakan dari menjadi pegawai kantoran dengan freelancer adalah asuransi kesehatan yang bisa dinikmatinya hanyalah dari kantor suami. Sebenarnya dia sudah terpikir untuk punya asuransi kesehatan sendiri, “Untuk transfer risiko, in case there is something happen to my husband, kami semua tetap diproteksi.”

Mendengar cerita Tetty, Shierly Ge, Head of Marketing PT Sun Life Financial Indonesia, merasa kagum dengan keinginan ibu satu anak itu. Dan sebagai modal awal, Shierly pun antusias memberikan prinsip dasar yang harus diketahui ketika memilih asuransi kesehatan.

Pertama, pilihlah asuransi kesehatan yang coverage-nya lengkap. “Dengan premi yang affordable, saat di rumah sakit kita bisa tenang karena tidak kena biaya tambahan.” Kedua, pastikan perusahaan asuransi memiliki jaringan rumah sakit yang luas. “Sun Life memiliki jaringan rumah sakit yang tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia.”

Mengapa penting untuk punya jaringan rumah sakit di seluruh dunia? “Kecenderungan masyarakat kita, semakin mapan semakin ingin berobat ke luar negeri. Sun Life memberikan kemudahan itu tanpa biaya tambahan.”

Tapi bukankah kebanyakan freelancer tidak punya pendapatan tetap, padahal preminya harus dibayar rutin. Shierly pun menawarkan solusi dengan memilih produk asuransi dengan investasi. “Premi bisa dibayarkan kapan saja, selama kita sudah menyelesaikan pembayaran investasi,” ucapnya seraya menyebutkan, umumnya pembayaran investasi dilakukan di 2 tahun pertama dan setelah itu pemegang polis bisa mengatur pembayaran preminya apakah akan dilakukan setiap bulan, per 6 bulan atau langsung satu tahun.

Lalu bagaimana dengan manfaat proteksinya? Menurut Shierly, baik asuransi murni maupun asuransi dengan investasi memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing. Positifnya, asuransi kesehatan dengan investasi membuat kita bisa ‘menikmati’ kembali premi-premi yang telah dibayarkan. Tapi negatifnya, uang yang dikeluarkan untuk membayar premi lebih banyak dari asuransi murni proteksi.

Namun bagi Shierly, asuransi kesehatan dengan investasi bisa menjadi pertimbangan bagi para freelancer. Karena tidak hanya memberi manfaat proteksi kesehatan tapi juga menawarkan bunga investasi yang kompetitif. “Karena dikelola dengan profesional maka bunganya sangat membantu para freelancer untuk memiliki tabungan di masa tuanya.”

 

1 Comment

  1. dnial

    Sepertinya asuransi yang proteksi+investasi ini menarik kalau kita nggak mau uang kita “hilang”. Esensi asuransi sebagai transfer resiko agak hilang di sini.

    Atau kudu diubah cara pikirnya, bahwa membayar premi asuransi adalah untuk membeli proteksi, jadinya duitnya hilang lah. Kan sudah dibelikan proteksi.

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *