Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

Memulihkan Anak Dari Trauma Aksi Terorisme

“Teroris itu kenapa nembakin orang sih ma?”

Siapa diantara Sahabat Medja Makan yang dapat pertanyaan itu dari anak pasca peristiwa bom di Sarinah? Lalu bagaimana kalian menjawabnya?  Sampai sejauh mana sih anak-anak perlu tahu tentang aksi terorisme itu?

Maklum saat ini gempuran informasi tak hanya mengincar orang dewasa tapi juga menyasar anak-anak. Orang dewasa saja bisa ketakutan menyaksikan setiap tayangannya apalgi anak-anak yang belum cukup piawai memetakan emosi.  Alhasil anak-anak bisa jadi stres atau trauma karena penyebaran informasi, foto, atau video pasca aksi terorisme. 

Bicara soal reaksi stres atau traumatik anak setelah aksi terorisme, ternyata hal serupa juga ditangkap para orang di Paris. Ada satu koran di sana yang secara serius membahas apa saja yang perlu dilakukan orang tua untuk menyelamatkan anak dari efek traumatis setelah aksi teror sejenis di kota tempat menara Eiffel berdiri.

“Trauma itu tak hanya dihadapi oleh mereka yang menyaksikan langsung peristiwanya tapi juga dirasakan oleh mereka yang terpapar informasi, gambar, atau video mengerikan. Dan anak-anak adalah salah satu korbannya karena mereka tinggal di tempat yang sama dengan orang dewasa jadi apa yang kita rasakan juga dirasakan anak-anak,” papar Nathanael EJ Sumampouw, M.Psi, psikolog Universitas Indonesia.

Jadi ketika anak bertanya tentang terorisme, bagaimana orang tua harus menjawabnya. Nathanael menjelaskan hal pertama yang harus dimiliki orang tua adalah menjadikan anak narasumber. Tujuannya tahu sejauh mana pemahaman mereka, dari mana mereka mendapatkan informasi, serta adakah ketakutan yang muncul di balik pertanyaan kritis mereka.

“Tekniknya, orang tua harus one level down alias mengajukan pertanyaan,” ucap psikolog forensik yang akrab dipanggil Nael ini. Ini adalah titik awal intervensi. Intervensi yang bagaimana?

“Intervensi yang tidak merupakan harapan palsu bahwa semua akan baik-baik saja. Harus diberikan penjelasan yang jujur tapi dalam bahasa anak yang mudah dipahami.” Pernyataan Nael ini semakin menghangatkan diskusi yang diadakan oleh Forum Ngobras (Ngobrol Bareng Sahabat) pada Selasa (19/1) lalu di Nutrifood Inspiring Center. 

Begitu kata terakhir diucapkan Nael, terlihat beberapa jurnalis yang hadir menyimpulkan tanya pada ekspresi wajahnya. “Ada rumus ABCDEF untuk memudahkan kita menjelaskan peristiwa traumatik kepada anak,” kata Nael yang diikuti dengan raut serius para jurnalis yang siap mencatat setiap urutannya. 

Ajukan pertanyaan. Jadikan anak sebagai narasumber, karena rangkaian jawabannya akan membantu kita untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka atas peristiwa traumatis yang terjadi. Misalkan, tanyakan dari mana mereka tahu tentang teroris. Lalu ajukan juga pertanyaan yang memancing mereka untuk bercerita mengenai perasaannya ketika mendengar peristiwa pengeboman oleh teroris itu. 

Batasi dari paparan kekerasan lebih lanjut. Orang tua harus tenang sambil mengurangi eksposur anak-anak terhadap foto-foto atau tayangan yang berbau kekerasan. “Anak bisa semakin trauma jika ia tinggal dengan orang dewasa yang mengembangkan reaksi trauma. Tapi membatasinya juga bukan berarti harus sangat reaktif.” Nael kemudian menyontohkan, ketika anak sedang menonton kartu tapi kemudian terhenti karena ada tayangan tentang berita kekerasan, orang tua jangan langsung mengganti saluran. “Alihkan perhatian mereka dengan mengajak bermain. Karena kalau tiba-tiba dilarang, anak-anak justru akan semakin penasaran.”

Ceritakan dengan sederhana apa yang terjadi. “Tidak perlu menjelaskan aksi teroris di Sarinah itu kerjaannya ISIS, ada konflik Suriah dan lain-lain. Ini terlalu rumit untuk anak-anak.” Nael menegaskan untuk memberi penjelasan sesuai fase perkembangan anak. Untuk anak usia 2 tahun ke bawah misalnya, fase perkembangannya adalah motorik. “Peluk dan mengajak mereka jalan-jalan akan lebih mudah dimengerti ketimbang kita menjelaskan kronologisnya.”

Bahkan untuk anak usia sekolah pun penjelasannya tidak perlu panjang. Tapi karena anak usia sekolah sudah lebih konkret dalam berpikir, maka penjelasannya bisa dilengkapi dengan aksi orang-orang yang terlibat agar peristiwa traumatik itu segera berakhir. “Bisa diceritakan di dunia ini ada orang jahat tetapi selalu ada orang-orang yang bertugas untuk menangkapnya, seperti polisi dan tentara. Lalu ceritakan juga ada dokter serta perawat yang membantu proses pemulihan korban. Ini menjadi cerita heroik dalam menangani teror.”

Dengarkan pendapat anak. Menemukan lebih dalam lagi tentang apa yang sebenarnya dirasakan serta dipikirkan anak tentang peristiwa traumatik tersebut. 

Ekstra kasih sayang. Tambahkan perhatian, terutama kepada anak-anak yang mengalami trauma secara langsung. Nael coba memberikan contoh dengan pulang kerja lebih cepat agar bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama anak. 

Fokus pada aktivitas dan rutinitas anak. Tantangan terbesar setelah mengalami situasi sulit adalah mengembalikan anak pada rutinitas dan aktivitas mereka. Efek rutinitas sangat luar biasa pada anak karena mereka jadi bisa mengembangkan konsep harapan akan hari esok. “Ini menciptakan persepsi pada pikiran mereka bahwa dunia bisa diprediksi,” ucap Nael sambil menyebutkan mengapa pasca bencana alam atau kerusuhan, para relawan akan secepatnya mengembalikan anak pada rutinitas mereka. Sekolah darurat adalah salah satu contoh konkret dari usaha mengembalikan anak pada aktivitas serta rutinitas harian mereka.  

Dengan anak kembali pada aktivitas serta rutinitas, ini membuat mereka kembali pada fungsinya sebagai anak-anak yang bermain dan berinteraksi. Alhasil mereka menjadi individu yang adaptif serta tangguh untuk bisa melampaui pengalaman sulit dalam hidupnya. 

Tapi selain membantu anak melalui peristiwa traumatik, orang tua juga berperan penting dalam menanamkan toleransi serta keberagaman. Tujuannya sederhana, agar anak tidak mudah menyerap paham-paham radikalisme yang merupakan akar dari aksi terorisme. Caranya? Dengan menjauhkan anak dari sterotipe dan pandangan negatif orang lain. 

“Tapi kadang kala, anak-anak suka berkomentar ih item dan keriting sambil menertawakan. Ini kan bisa jadi bibit rasis juga. Bagaimana biar anak tidak berpandangan negatif terhadap orang lain yang berbeda dengan dia?” tanya salah satu jurnalis kepada Nael. 

“Bisa dengan menunjukkan ada pemain bola, pahlawan atau presiden yang berkulit gelap dan keriting tapi punya potensi. Orang tua harus bisa membantu anak melihat bahwa semua orang punya potensi terlepas dari apa warna kulit, agama, dan sukunya.” Pemahaman ini menjadi penting karena nantinya setelah dewasa anak-anak akan berinteraksi dengan orang dari berbagai latar belakang. Dan ini baru bisa terbentuk ketika anak dikenalkan pada keberagaman, tanpa meninggalkan nilai yang dijunjung keluarga.

Lalu untuk menghindari anak dari pengaruh negatif akibat pengaruh teman-temannya ketika remaja, Nael menegaskan kuncinya adalah trust. Inilah yang akan membuat anak selalu menyampaikan apapun yang diterima dari interaksi bersama teman-temannya.  “Tapi trust ini susah sekali dibentuk. Orang tua harus paham kalau anak remaja itu dunianya sangat kompleks, jadi biarkan mereka yang lebih banyak bercerita, ciptakan suasana nyaman, bersahabat dan tidak cepat menghakimi.”

Lagi-lagi Nael memberikan rumus untuk membangun trust kepada anak. “Rumusnya DHA.” Apa itu DHA? Dispilin, hangat, dan aktivitas. Nael pun menjabarkan satu per satu. Displin penting, tapi kalau hanya disiplin saja anak akan merasa seperti robot karena itu harus dilengkapi dengan hangat. “Kehangatan ibarat oksigen untuk berkembang,” psikolog bertubuh jangkung itu menambahkan.

Ketika sudah ada displin dan kehangatan, maka orang tua perlu melakukan aktivitas bersama dengan anak. “Dari aktivitas bersama inilah anak membangun kepercayaan kepada orang tuanya.”

Medja Makan bersama para jurnalis dan narasumber pada diskusi santai Forum Ngobras

Medja Makan bersama para jurnalis dan narasumber pada diskusi santai Forum Ngobras

1 Comment

  1. Pingback: Memulihkan Anak Dari Trauma Aksi Terorisme | Ngobras

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *