Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

Mengurai Teka-Teki Pubertas

Masa remaja adalah masa yang penuh gejolak. Fase perubahan dari anak-anak menuju dewasa ini memang datang dengan segudang teka-teki. Ya orang tua, ya remajanya, keduanya menghadapi fase perubahan ini dengan serba menebak-nebak. Padahal kuncinya adalah komunikasi yang terbuka!

Sebelum bicara dari sisi orang tua, mari kita mengingat-ingat apa yang kita rasakan ketika masa transisi itu datang. Pada saat kapankah kita menyadari bahwa sudah bukan anak-anak lagi?

Apakah saat keringat membuncah dan membuat aroma badan yang dulunya kecut akibat terpanggang sinar matahari kemudian berganti menjadi bau badan yang begitu menusuk? Apakah ketika kulit mulus tiba-tiba dibombardir dengan jerawat-jerawat kecil yang mengambil tempat semau-maunya di muka kita? Ataukah mungkin saat mulai merasa jantung berdegup tak beraturan ketika dekat dengan orang yang mulai sering muncul di kepala? 

Mungkin sebagian dari kita akan menjawab, tanda pasti pubertas itu adalah ketika hari pertama anak perempuan menstruasi dan anak laki-laki mimpi basah. Ternyata menurut Dr. Aditya Suryansyah, Sp.A, menstruasi dan mimpi basah justru tanda akhir dari pubertas. Nah loh jadi pubernya mulai kapan dong?

Aditya yang adalah dokter spesialis endokrin anak ini kemudian menjelaskan kalau ternyata pubertas anak perempuan berawal antara umur 8 sampai 13 tahun, sedangkan pada anak laki-laki antara umur 9 sampai 14 tahun. 

Menstruasi terjadi 2-3 tahun setelah masa pubertas. Justru tanda payudara yang membesar adalah masa awal dari pubertas. Pada anak laki-laki, awal pubertasnya ditandai dengan testis yang mulai membesar, ucap Adit pada Forum Diskusi yang digelar Ngobrol Bareng Sahabat (Ngobras) bersama Klinik Remaja Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita (RSAB) pada 17 Februari kemarin. 

Jadi ketika anak-anak mengalami jerawatan, mulai muncul bau badan dan perubahan fisik lainnya, itulah awal dari pubertas. Tak hanya fisik dan emosi saja yang berubah, tapi juga lingkungan sosial mereka. Di masa ini mereka tengah bergulat dengan pencarian jati diri. “Anak-anak tengah berjuang agar diterima dengan teman-temannya, alhasil mereka lebih mendengar perkataan temannya ketimbang orang tuanya,” ucap psikolog Ade Dian Komala, M.Psi dari Klinik Remaja RSAB Harapan Kita. 

Lalu bagaimana sebaiknya orang tua bersikap? “Terbuka. Sikap yang terbuka akan membuat orang tua siap dengan segala perubahan yang terjadi pada masa transisi anak menuju dewasa. Bahkan kalau perlu orang tua ikut pelatihan tentang pubertas dan segala permasalahannya,” ucap Ade.

MedjaMakan pun terpancing untuk memperjelas jawaban Ade. “Oh ada pelatihannya ya?”

“Oiya ada. Orang tua bisa ikut pelatihan tentang pubertas yang disuka diadakan oleh dokter Aditya di Klinik Remaja ini jadi orang tua mengerti apa saja gejala dan masalah apa saja yang bisa menyertainya.”

Permasalahan pubertas itu ternyata bukan hanya sekadar bau badan atau muka jerawatan saja, tapi bisa jadi ada gangguan pada hormon anak hingga membuat mereka mengalami pubertas dini atau terlambat. Dikatakan pubertas dini apabila anak perempuan mengalami pembesaran payudara di bawah umur 8 tahun. Sedangkan dikatakan pubertasnya terlambat ketika tanda pubertas itu baru terjadi ketika anak perempuan berusia di atas 13 tahun. Untuk anak laki-laki, disebut pubertas dini ketika pembesaran testisnya terjadi pada usia di bawah 9 tahun dan disebu terlambat ketika terjadi di atas 14 tahun.

Gangguan apa saja yang mungkin timbul ketika pubertas datang terlalu dini atau terlambat? Aditya menyebutkan beragam gangguan pertumbuhan yang ditandai dengan tubuh pendek, mikropenis, atau obesitas. Semua ini harus dicari apa pencetusnya sehingga bisa ditangani dengan baik sehingga masa transisinya bisa dilalui dengan baik. 

“Untuk pubertas dini bisa diatasi dengan menghentikan hormon pertumbuhan yang berlebihan sehingga anak bisa tumbuh normal. Lalu untuk yang terlambat akan dilihat apakah hormon pertumbuhannya memang normal atau variasi genetik. Kita hanya akan memberikan terapi hormonal jika memang terbukti ada kekurangan hormonal.” Aditya menjelaskan dengan detail. 

Ketika orang tua sudah mengetahui bagaimana fluktuasi hormonal pada masa pertumbuhan merubah tampilan fisik anak, para orang tua juga harus memahami gejolak emosi dan tekanan sosial yang dialami anak sebagai bumbu-bumbu tambahan dari meriahnya pubertas ini.

“Orang tua harus jauh lebih pintar dari anak-anaknya. Orang tua harus mengetahui apa saja yang sedang terjadi di dunia remaja sehingga bisa tahu tekanan sosial apa saja yang dihadapi anak-anak,” Ade kembali mengingatkan.

Apakah ini artinya orang tua harus menjadi abege tua? “Tidak juga. Tapi orang tua sudah harus mulai membiarkan anaknya membangun moral responsibility atau tanggung jawab moralnya sendiri sebagai orang dewasa. Dan pembentukan itu harus dimulai jauh sebelum mereka masuk remaja alias sejak mereka kecil.” jawab Ade.

Ade kemudian memberikan contoh, ketika anak bercerita baru saja berkelahi dengan teman sekolahnya, orang tua tidak lantas menyelesaikan masalah dengan menjadi pahlawan bagi anaknya. Melalui dialog orang tua mengajak anak untuk memetakan masalah agar bisa merumuskan sendiri bagaimana sebaiknya masalah diselesaikan. “Karena ketika anak tidak terbiasa memecahkan masalah maka dia tidak akan menjadi sosok yang tangguh dalam menghadapi tantangan hidup.”

Efeknya, lanjut Ade, bisa jadi sampai usia menjelang tiga puluh tahun, anak yang sudah dewasa itu tidak pernah tahu apa yang menjadi cita-citanya. “Saya pernah menghadapi kasus seperti itu, kuliah tidak pernah selesai karena selalu berganti-ganti jurusan. Setelah ditelaah ternyata sewaktu kecil sampai remaja anaknya selalu memilih berdasarkan instruksi orang tua. Akhirnya semua yang dijalani bersifat trial and error. Anak jadi tidak pernah percaya pada kemampuan dirinya sendiri.” 

Hal lain yang juga bisa diterapkan orang tua untuk mendampingi anak-anaknya yang sedang masuk masa transisi adalah jangan cepat menghakimi! Kasus yang paling sering dihadapi orang tua pada anak-anak yang sedang puber adalah ketika mereka bercerita mulai menaksir orang lain. Kebanyakan orang tua akan panik dan mencap pacaran hanya akan menjerumuskan anak pada perbuatan yang melanggar norma. 

Pada masa transisi dengan gejolak hormon yang luar biasa, rasa ketertarikan akan muncul. Ini adalah tahap dan perasaan yang wajar dari anak yang menuju proses kedewasaan. “Dengarkan saja apa yang membuatnya tertarik dengan orang tersebut dan berikan arahan sebagai seorang teman agar anak terus percaya dan mau berbagi kepada kita orang tuanya.” 

Atau ketika anak mulai memberikan perhatian pada penampilannya, orang tua juga jangan langsung melabeli anak-anak dengan sebutan centil atau genit. Ini namanya menghakimi dan ketika dihakimi anak-anak yang sedang mencari jati diri itu akan melihat orang tuanya sebagai musuh.

Lagi-lagi Ade bercerita tentang permasalahan remaja yang pernah datang kepadanya selama menjadi psikolog di Klinik Remaja RSAB Harapan Kita. Seorang anak remaja perempuan berusia 16 tahun dikeluhkan oleh ibunya sebagai anak yang centil dan genit karena kemana-mana selalu dandan. “Ibunya bahkan sampai bilang malu untuk membawa anaknya itu ke kantor karena anaknya dinilai centil.”

Ade pun bertanya apa yang membuat anak itu suka berdandan. “Ternyata dia suka berdandan karena teman-teman memuji kecantikannya. Dia suka menjadi pusat perhatian, sedangkan orang tuanya menghakimi hingga membuat komunikasi mereka menjadi tidak pernah sejalan.”

 

Itu mengapa komunikasi yang terbuka dari orang tua juga menjadi penting untuk mendampingi anak-anak dalam memasuki kedewasaannya. Sehingga tak hanya membuat anak-anak tidak merasa kebingungan sendiri atas perubahan fisik maupun emosi yang dihadapi akibat gejolak hormon dalam tubuhnya, tapi juga melatih dirinya menjadi individu yang mandiri dan tangguh. Siapa yang kira kalau ternyata urusan pubertas bukan hanya sekadar jerawatan, jatuh cinta dan patah hati, tapi juga bertalian erat dengan pembentukan karakter yang bahagia dan bertanggung jawab. Selamat menjadi dewasa anak-anak 😀 

MedjaMakan bersama Jurnalis Kesehatan dan Narasumber pada Ngobras Ketiga : Pubertas dan Permasalahannya

MedjaMakan bersama Jurnalis Kesehatan dan Narasumber pada Ngobras Ketiga : Pubertas dan Permasalahannya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *