Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

Anak Main Sosmed, Iya atau Tidak?

Minggu lalu, MedjaMakan sangat kaget saat digawai masuk gambar sepasang anak di bawah umur berfoto seperti sepasang orang dewasa yang baru bercinta. Yang bikin semakin kaget adalah isu yang beredar, anak perempuan yang ada di foto itu masih duduk di bangku sekolah dasar alias SD.

Pertanyaan pertama yang muncul adalah, apa iya itu beneran anak SD kok tampangnya dewasa bener? Ini sebenarnya reaksi ketakutan yang mempertanyakan kenyataan apa iya pergaulan anak di bawah umur memang sudah seperti itu? Lalu pertanyaan berikutnya muncul, perlu ngga sih anak SD eksis di sosmed?

Pertanyaan itu muncul karena kemudian menyadari begitu banyak orang dewasa yang membagikan foto itu ke sosial media. Mereka memaki, mencaci, hingga semua orang dewasa merasa “penghakiman” massal di dunia nyata itu patut dilakukan demi membuat malu pasangan yang katanya anak SD itu.

MedjaMakan sendiri merasa tidak ada untungnya membagikan foto itu, baik atas nama mengingatkan orang dewasa lainnya untuk mengawasai pergaulan anak-anak kecil, apalagi atas nama membuat malu pelaku dengan menghakimi mereka di sosial media. MedjaMakan berpendapat ketika kita ikut membagikan foto itu di media sosial maka kita telah memperpanjang rantai peredaran foto yang mengandung unsur pornografi anak.

Tapi itu tidak langsung membuat kepala saya berhenti menggandakan pertanyaan-pertanyaan. Bagaimana seharusnya anak-anak bermain sosial media? Modal apa yang harus dipunya orang tua ketika satu hari nanti anaknya minta dibuatkan akun sosial media?

Pucuk dicinta ulam tiba. Pas lagi dirubung pertanyaan-pertanyaan itu, MedjaMakan kembali diundang untuk datang pada diskusi yang digelar Ngobras, Ngobrol Bareng Sahabat. Diskusi ini dibuat oleh sekelompok wartawan kesehatan untuk membantu masyarakat mendalami isu-isu yang berkembang dari sisi kesehatan. Dan pada 11 Maret kemarin, Ngobras mengangkat tema Anak dan Sosial Media (Sosmed) di Nutrifood Inspiring Center, Menteng, Jakarta.

Diskusinya langsung dibuka dengan pertanyaan ini, perlukah anak-anak main sosmed?

Psikolog anak dan remaja Yayasan Pulih, Ika Putri Dewi langsung menjawab begini, “Terlepas dari sosmed adalah sesuatu yang bersifat kekinian, media ini juga bermanfaat untuk anak dan remaja. Hanya saja dari sisi usia, sosmed sangat tidak cocok untuk anak-anak di bawah 17 tahun.” Mengapa?

Karena di bawah usia 17 tahun, anak-anak masih belum memiliki kematangan emosi dan berpikir yang baik. Sehingga mereka belum bisa memikirkan dengan matang bagaimana konsekuensinya ketika membagikan konten ke sosmed. Ika kemudian menggambarkan bagaimana kebutuhan psikologis anak ketika memasuki usia anak dan remaja.

Saat berada di usia sekolah dasar, 7-12 tahun atau disebut middle childhood,  anak-anak masih asik membentuk self concept atau konsep diri mereka. “Mereka belum ada dorongan untuk berteman secara kelompok jadi pada rentang usia ini sosmed tidak diperlukan.”

Konsep diri anak justru semakin terasah ketika mereka dilibatkan dengan berbagai kegiatan yang mendorong prestasinya tapi juga ada interaksi nyata dengan teman-temannya. “Ekstra kurikuler, ikut kursus sesuai minat, dan ikut lomba justru akan lebih membentuk konsep diri ketimbang terpaku pada dunia sosmed.”

Baru ketika mereka berusia 12 tahun ke atas muncullah kebutuhan membentuk kelompok pertemanan yang lebih luas. Mulai ada kebutuhan untuk diakui oleh kelompok atau peer group-nya.  “Agar diakui mereka mulai merasa butuh untuk tampil. Ini memang kebutuhan mengekspresikan diri secara psikologis yang muncul saat usia remaja.”

Tapi Ika langsung mengingatkan, kebutuhan mengekspresikan diri anak remaja masih belum dilengkapi dengan kematangan emosi dan berpikir. Ini yang sering menjadi wilayah kritis karena niat mengekspresikan diri di sosmed bisa jadi berujung pada pem-bully-an atau perundungan.

Di Amerika Serikat sendiri, kasus bunuh diri pada remaja terkait tindakan perundungan di sosmed mencapai 4.400 kematian per tahun! Itu mengapa orang tua tetap harus mendampingi anak, tidak bisa memberikan kebebasan seluas-luasnya dalam menggunakan internet dengan segala interaksi yang ada di dalamnya. “Sebab tidak ada sistem yang bisa memfilter apakah pengguna akun benar-benar sudah sesuai umur atau tidak.”

 

Ini kemudian diamini Widuri dari Information and Communication Technology (ICT) Watch. Ini adalah lembaga swadaya masyarakat yang membuat gerakan internet sehat pada 2002. Widuri menganalogikan intenet seperti pasar, segala macam informasi tesedia di dalamnya.

“Kalau kita ke pasar dengan anak, tidak mungkin kan kita lepas begitu saja. Pasti kita akan pantau gerak-gerik mereka. Demikian halnya ketika anak bermain internet, kita harus dampingi mereka untuk mengerti bagaimana beretika yang benar ketika berinternet.”

Internet itu punya dua sisi mata pisau, ada efek baik dan jeleknya. Dan fenomena gunung es yang paling sering ditangkap dari internet adalah masalah cyber bully, pornografi dan privasi. Padahal banyak hal positif yang bisa didapatkan dari kebebasan informasi di internet. Dua sisi mata uang ini harus difilter dengan bijak agar internet jadi lebih memaksimalkan kemampuan diri ketimbang menciderai.

Ketika berbicara mengenai anak-anak maka wilayahnya adalah perlindungan oleh semua orang dewasa yang ada di sekitarnya. Itu mengapa menurut Widuri, orang tua seharusnya menjadi filter pertama bagi anak-anak untuk memberikan pengetahuan mengenai etika berinternet yang sehat.

Itu mengapa ketika para orang dewasa men-share foto anak yang dicurigai melakukan hubungan dewasa itu tanpa mem-blur muka atau tidak membuka nama dari pelaku, maka secara langsung telah menjadikan mereka sebagai korban cyber bullying.

“Dan ketika anak melakukan kesalahan di internet maka yang harus disalahkan adalah orang tua. Itu mengapa orang tua harus lebih dahulu punya bekal literasi digital, jauh sebelum anak-anaknya aktif bermain internet dan sosmed,” tegas Widuri.

Bekal Literasi Digital Untuk Orang Tua

Apakah modal dasar dari literasi digital itu? Widuri menjawab, “Hal yang paling dasar saja, keamanan dalam hal ini menganti password secara rutin. Tujuannya apa? Biar akun kita tidak mudah di-hack lalu disalahgunakan oleh orang lain.”

Sebagian besar ibu-ibu, lanjut Widuri, akan memilih password atau kata kunci yang sangat mudah diingat. Seringnya mereka akan menggunakan nama anak mereka sebagai kata kunci. “Saya selalu sarankan untuk boleh saja pakai password yang mudah diingat oleh kita tetapi itu juga harus sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang lain.”

Ketika orang tua punya kesadaran akan pentingnya keamanan dalam berinternet maka akan memfilter diri hal-hal apa saja yang bisa dibagikan di sosmed.  Misalnya ketika mengantar anak ke sekolah, tidak perlu check in karena ini bisa menjadi sumber informasi yang sangat dicari oleh pelaku kejahatan. “Ketika pelaku kejahatan mengetahui pola rutinitas kita, dengan mudah penculik bisa tahu anak kita sekolah di mana dan pergi atau pulang sekolah jam berapa saja.”

Bicara keamanan juga berkaitan dengan memastikan anak mengakses konten sesuai kebutuhannya. Untuk hal ini, Widuri menyarankan orang tua menggunakan tools pengawasan penggunaan internet yang bisa diunduh secara gratis maupun berbayar. “Bahkan bisa ikut aktif melaporkan ketika menemukan situs yang berbau pornografi atau negatif lainnya ke nawala.id.”

Tapi bagaimana kalau kita tahu anak mengakses konten negatif atau bahkan menyimpan konten itu di dalam gadget-nya, perlukah dimarahi? “Jangan reaktif dan langsung menduga-duga sesuatu yang buruk,” jawab Ika santai. Untuk mengetahui persepsi mereka atas konten tersebut, lakukanlah diskusi secara terbuka.

Diskusi juga menjadi trik yang sama ketika anak menjadi korban perundungan baik di sekolah maupun di sosmed. “Ciri-ciri anak yang mengalami perundungan adalah adanya perubahan sikap yang drastis dari anak.” Perubahan tersebut termasuk dari yang ceria menjadi murung atau dari yang pendiam menjadi suka mencari perhatian. Hal lain yang juga bisa muncul adalah gangguan sulit tidur, tidak mau sekolah, bahkan menjadi malas untuk bermain gadget. 

“Itu mengapa jauh sebelum anak mulai menemukan dunianya sendiri di sosmed, orang tua sudah membangun komunikasi yang terbuka dengan anak sehingga bisa segera ditangani dengan baik,” Ika kembali mengingatkan para orang tua.

Dan sebagai penutup, Widuri juga mengingatkan orang tua agar meminimalisir penggunggahan foto anak di sosmed. Sebab para pedofilia memanfaatkan sosmed sebagai pintu masuk untuk menarik perhatian anak hingga mau melakukan pornoaksi di sosmed. “Para pedofilia ini akan mendekati, menarik perhatian dan membuat anak percaya padanya dalam komunikasi yang sangat intensif selama berbulan-bulan di internet. Begitu anak sudah percaya maka mereka akan diminta melakukan hal yang tidak pantas di internet.”

Jadi ketika bersama anak, jangan jadikan gadget sebagai benda ajaib yang bisa membuat mereka diam, tapi berinteraksilah secara nyata dengan mereka. Sebab gadget dengan fitur sosmed di dalamnya bukanlah tempat riil bagi anak-anak untuk berinteraksi, melainkan komunikasi langsung dengan orang tuanyalah yang menjadi medium terbaik bagi anak untuk membentuk konsep diri.

MedjaMakan dan Forum Ngobras dalam diskusi Anak dan Sosial Media

MedjaMakan dan Forum Ngobras dalam diskusi Anak dan Sosial Media

1 Comment

  1. Pingback: Anak Main Sosmed, Iya atau Tidak? | Ngobras

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *