Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

Kenapa Sih Anak Perempuan Harus Vaksin HPV?

vaksinasi anak

Kanker serviks adalah satu-satunya jenis kanker yang bisa dicegah dengan vaksinasi. Bahkan penelitian membuktikan kalau vaksin HPV memiliki efektivitas sampai 90 persen untuk menghindarkan kita dari kanker serviks. Plus ada bonusnya juga, karena ternyata ketika kita melakukan vaksinasi HPV juga berarti memproteksi tubuh dari berbagai jenis kanker lainnya yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) seperti kanker vagina, kanker anus, dan kanker mulut.

Pada saat artis Julia Perez atau yang akrab dipanggil Jupe bercerita secara terbuka tentang kanker serviks yang dialaminya, banyak perempuan yang kemudian mulai mencari tahu apa sebenarnya kanker serviks. Meski banyak yang mencari tahu tapi tidak banyak juga perempuan yang merasa wajib untuk melakukan vaksinasi. Apalagi ketika pemerintah kita punya pilot project untuk vaksinasi gratis HPV ke anak-anak sekolah di seluruh DKI Jakarta, justru direspon dengan berbagai berita miring yang menciderai niat pemerintah untuk memproteksi anak-anak perempuan kita dari kanker serviks. Kenapa sih pemerintah sebegitu niatnya memproteksi anak-anak perempuan kita dari serangan virus HPV?

Mari kita bicara data. Kanker serviks adalah kanker kedua terbanyak yang menyebabkan perempuan di Indonesia meninggal. “Melalui skrining diketahui kalau 1 dari 1.000 perempuan terkena kanker serviks dan dari angka insiden 38.000 per tahun, angka kematiannya sangat tinggi yaitu 80 persen. Ini artinya ada 30.400 perempuan meninggal karena kanker serviks setiap tahunnya,” ucap Prof. Dr. dr. Andrijono, SpOG (K) yang adalah Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) di diskusi Forum Ngobras pada 11 April kemarin.

Data yang didapat dari RSCM saja, sambung Prof. Andri, menunjukkan kalau 70-82,3 persen pasien kanker serviks datang pada stadium lanjut. “Dan rata-rata setelah 2 tahun yang bertahan hidup hanya tinggal 6 persen.”

HPV sendiri memiliki 100 tipe virus tapi ada 19 tipe yang menyebabkan kanker. Prof. Andri menjelaskan, di Indonesia tipe paling banyak adalah 16 (44 persen), 18 (39 persen), dan 52 (14 persen). Ketika tubuh diinfeksi oleh HPV maka perjalanan penyakitnya untuk menjadi kanker serviks bisa mencapai 100 persen, kanker vagina 60-90 persen, kanker vulva 40 persen, kanker mulut dan tenggorokan 12-70 persen, dan kanker penis 45 persen. “Padahal serangan HPV ini bisa dicegah sampai 100 persen, kalau tubuh punya proteksinya,” tegas Prof. Andri.

Bicara soal pencegahan, ada dua lini pencegahan yang bisa dilakukan. Pencegahan primer adalah dengan vaksinasi dan pencegahan sekunder adalah dengan skrining atau deteksi dini menggunakan Inspeksi Asam Visual Asetat (IVA) dan pap smear. “Hanya saja cakupan dari skrining di Indonesia masih sangat rendah yaitu 3,5 persen untuk IVA dan 7,7 persen untuk papsmear. Karena itu kita perlu meloncat ke program vaksinasi demi mencegah infeksi akibat HPV agar tidak menjadi kanker serviks.”

Apa sebenarnya isi dari vaksin HPV? Prof. Andri menjelaskan, vaksin HPV berasal dari cangkang virus jadi bukan virus yang dilemahkan. Ini membuat vaksin HPV tidak mungkin menyebabkan viremia atau infeksi virus. Dari sisi keamanan pun, beberapa penelitian ilmiah menunjukkan tak ada efek samping yang serius ditemukan. “Keluhannya hanya nyeri di lokasi suntikan itu saja.” Bahkan di Amerika Serikat disebutkan sudah tidak menggunakan vaksin HPV kuadrivalen atau yang mengandung 4 serotipe virus, bukan karena vaksinnya berbahaya tapi karena di sana mulai dipakai vaksin HPV baru yaitu yang mengandung 9 serotipe. “Itu mengapa kalau kita tidak bergerak cepat untuk memproteksi anak-anak perempuan kita, takutnya di negara-negara lain sudah tidak ada di Indonesia masih ada.”

Lalu mana yang lebih efektif, IVA, pap smear atau vaksinasi? Prof. Andri kemudian memberikan gambaran. Program skrining dengan IVA memang sudah dikerjakan karena murah dan gampang, tapi tadi kita lihat cakupannya masih sangat rendah yaitu 3,5 persen karena tidak semua perempuan yang sudah aktif melakukan hubungan seksual menyadari pentingnya melakukan skrining. Sedangkan untuk pap smear, diperlukan patolog yang tidak di semua provinsi ada. “Lalu jika dilihat dari beban yang ditimbulkan dari kanker serviks yang begitu tinggi maka perlu strategi untuk melakukan vaksinasi secara nasional. Demi memproteksi anak-anak perempuan kita sejak dini. Dengan 2-3 suntikan, sudah mendapat proteksi hingga 15 tahun!”

Dibandingkan skrining, vaksin jauh lebih efektif. Bila ditemukan lesi pra kanker saat skrining, perlu dilakukan terapi, dan akan ada morbiditas yang terjadi. Bila lesi pra kanker sudah grade 3, rahim harus diangkat, sehingga perempuan tersebut tidak bisa punya anak lagi. Sedangkan dengan vaksin, dengan 2-3 suntikan, sudah mendapat proteksi hingga 15 tahun.

Di Indonesia, pilot project vaksinasi HPV gratis sudah dilakukan oleh Provinsi DKI Jakarta. Vaksinasi diberikan kepada anak-anak ketika umur 10 tahun atau saat kelas 5 SD. Mengapa? Lagi-lagi data menunjukkan salah satu penyebab tingginya insiden kanker serviks di Indonesia adalah karena masih banyaknya pernikahan dini. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan, pernikahan pada usia kurang dari 19 tahun mencapai 45 persen! Karena itu menurut Prof. Andri, kalau vaksinasi dilakukan saat lulus SMA, bisa jadi terlambat. “Bila diberikan di usia 10 tahun, maka anak sudah terlindungi sejak dini, sebelum mereka aktif secara seksual!”

Selain itu, penelitian juga menunjukkan vaksinasi di usia muda menunjukkan efikasi yang lebih baik. Di Swedia misalnya, bila vaksinasi dilakukan di usia kurang dari 17 tahun, efikasinya bisa lebih dari 75 persen. Pada usia 9-13 tahun, vaksin cukup diberikan dalam dua dosis (2x suntikan) sedangkan di usia 14-45 tahun diberikan dalam 3 dosis.

Lalu efektifkan kalau vaksin HPV diberikan pada perempuan berusia 45 tahun ke atas? Prof. Andri menjelaskan, pada perempuan berusia 45 tahun ke atas bisa saja melakukan vaksinasi, tapi sebelumnya harus di-skrining dulu dan hasilnya negatif. Tapi efektivitas vaksin akan menurut ketika diberikan pada usia yang lanjut karena rata-rata saja pasien kanker serviks saat ini berusia 30 tahun. “Artinya, vaksinasi di usia lebih muda jauh lebih efektif karena antibodi terbentuk lebih baik.”

Jadi sudahkah penikmat Medja Makan divaksin HPV?

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *