Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

Mengapa Anak Lelaki Tak Kenal Rasa Takut?

compile artikel nakita

Mengapa Anak Lelaki Tak Kenal Rasa Takut?

Modal pertama yang harus dimiliki orangtua ketika mengasuh anak laki-laki adalah menyadari bahwa mereka memiliki sifat-sifat khas. Bagaimana peran ayah dalam menumbuhkan sifat khas laki-laki

Mama, apa yang terlintas di kepala ketika kita menggambarkan gaya bermain anak laki-laki? Mungkin sebagian dari kita akan menjawab kalau anak laki-laki itu terlalu energik alias tidak mau diam, dari melempar-lempar mainan, lari-larian, sampai lompat-lompatan. Alhasil tidak jarang juga kita bertanya, kenapa sih anak laki-laki energinya selalu berlebihan?

Psikolog Klinis Anak dari Universitas Tarumanegara Naomi Soetikno, M.Pd, Psi., menjawab bahwa anak laki-laki cenderung energik karena faktor hormonal. “Anak laki-laki memiliki hormon testosteron dan androgen lebih banyak dari anak perempuan, inilah yang membuat mereka lebih energik.”

Salah satu fungsi hormon androgen dalam tubuh adalah membawa energi. Anak perempuan juga memiliki hormon androgen tapi kadarnya tidak sebanyak anak laki-laki. Pengaruh hormon androgen ini menurut Naomi, sudah terlihat dari mereka (anak laki-laki) masih bayi. Biasanya bayi laki-laki akan lebih aktif dan motorik kasarnya berkembang lebih dominan. Itu mengapa mereka jadi lebih cepat merangkak dan jalan.

“Sedangkan pada bayi perempuan, yang lebih dominan motorik halus dan bersifat sosial sehingga biasanya jadi lebih cepat bicara ketimbang jalan.”

Uniknya lagi pengaruh hormonal juga membuat anak laki-laki memiliki minat pada material ketika mengeksplorasi sekelilingnya. “Itu mengapa anak laki-laki lebih tertarik pada mobil-mobilan dan robot-robotan ketimbang boneka,” tambahnya.

Apa yang dijelaskan Naomi sejalan dengan hasil kesimpulan psikologi anak Lisa Serbin dan timnya dari Concordia Unviersity, Montreal, Quebec. Dalam risetnya yang berjudul “Gender Stereotyping in Infancy: Visual preferences for and Knowledge of Gender-Stereotyped Toys in the Second Year” (International Journal of Behavioral Development, 25:7-15,2001), Lisa mengobservasi 77 anak laki-laki dan perempuan usia 18 bulan.

Anak-anak tersebut, khususnya anak laki-laki, tidak tahu apa jenis kelamin mereka bahkan ketika para psikolog berusaha menjelaskan menggunakan tes nonverbal paling sederhana. Namun ketika diberi pilihan mainan antara boneka atau mobil truk, anak-anak tersebut dengan tepat memilih mainan sesuai jenis kelaminya. Anak laki-laki cenderung memilih mobil truk ketimbang boneka, sedangkan anak perempuan memilih boneka daripada mobil truk.

Cara anak laki-laki memainkan benda-benda itu pun menurut Naomi sangat dipengaruhi oleh hormonalnya. Karena mereka punya energi yang lebih banyak, alhasil eksplorasinya pun terkesan merusak seperti membanting-banting. Padahal sebenarnya dia sedang mengeksplorasi lingkungannya dan itu jadi satu kenikmatan tersendiri buat mereka. Apakah ini artinya orang tua membiarkan cara bermain mereka yang begitu karena merupakan panggilan alamiah anak laki-laki?

Tentunya, tidak harus begitu. “Pancing energi eksplorasinya agar lebih terarah,” jawab Naomi yang juga berpraktek di RS Omni Pulomas ini.

Ketika anak menarik-narik pintu mobil-mobilannya, orangtua bisa mengarahkan energinya yang berlebihan itu dengan menjelaskan fungsi dari pintu mobil. Alhasil eksplorasi anak laki-laki semakin luas dan tidak terkesan hanya merusak barang-barang atau membuat situasi rumah terasa lebih semwrawut.

Protektif dan Tidak Kenal Takut

Bicara soal eksplorasi mainan, Anne Dyana, bercerita kedua anaknya, Jonathan Gene Sebastian (7 tahun) dan Aaron Nicholas (3,5 tahun) ini kompak lebih tertarik pada mainan yang identik untuk anak laki-laki. “Tapi khusus untuk adiknya, pengaruh memilih mainan itu memang dari abangnya. Karena buat adiknya, abangnya itu adalah idola hidupnya jadi apa yang abangnya punya dia harus punya, mulai dari sikat gigi sampai mainan,” ujar Anne.

Memiliki dua anak laki-laki memang bisa jadi tantangan tersendiri baginya. “Serulah karena pasti selalu rusuh,” jawab Anne sambil berseloroh.

Tidak hanya dari sisi energi yang berlebih, cara berkomunikasi kepada anak laki-laki pun sangat dipengaruhi oleh sifat khas mereka. Sebenarnya apa saja sih yang jadi sifat khas dari anak laki-laki?

“Mereka sangat protektif. Ini daerah saya, tidak boleh ada orang lain yang menguasai. Ini membuat mereka cenderung keras kepala dan tidak punya rasa takut,” jelas Naomi.

Karena itu, modal pertama yang harus dimiliki orangtua ketika berhadapan dengan anak laki-lakinya adalah menyadari mereka memiliki sifat-sifat khas itu. “Saat kita bicara tentang sifat maka sebenarnya itu adalah bawaan atau genetis, jadi dia terlahir membawa sifat-sifat khasnya.”

Tapi Naomi juga mengingatkan kalau faktor genetis atau biologis itu hanya berkontribusi 50% dalam membentuk karakter seseorang, sisanya dipengaruhi juga dari lingkungan yang termasuk di dalamnya pola pengasuhan.

Pasti Mama langsung punya pertanyaan baru. Kalau begitu bagaimanakah pola asuh yang sebaiknya diterapkan pada anak laki-laki agar sifat khasnya bisa membentuk mereka jadi laki-laki dewasa?

Pola Asuh yang Diterapkan

Anne Dyana membayangkan figur laki-laki dewasa yang diinginkan dari anak laki-lakinya adalah tangguh, kuat, berani ambil keputusan dan bekerja keras. “Karena bagaimana pun juga mereka nantinya adalah pemimpin untuk keluarganya.” Alhasil pola asuh yang diterapkan Anne bersama suaminya pun cenderung lebih tegas dan displin.

Sifat khas anak laki-laki yang dominan dan cenderung keras kepala, menurut Naomi bisa diarahkan menjadi modal dasar mereka ketika nanti menjadi pemimpin. “Kuncinya jelas adalah modeling atau meniru dari orang dewasa yang ada di sekitarnya.”

Perilaku meniru ini biasanya muncul saat anak-anak berumur 4-6 tahun. Psikologi menyebutnya sebagai Fase Falik. Di fase inilah anak-anak belajar identitas kelaminnya. Kita sering mendengar cerita anak yang suka memegang alat kelaminnya atau mengintip temannya di kamar mandi di rentang usia ini. Ini adalah rasa ingin tahu mereka yang sedang mengenali identitas kelaminnya.

Tak jarang juga mereka tertarik untuk meniru gaya berpakaian ibu atau kakak-kakak perempuannya. Apakah ini bagian dari pengenalan identitas? Untuk situasi ini, Naomi menyarankan untuk tidak memberikan pujian atau bahkan tertawa ketika melihat anak laki-laki menirup penampilan ibu atau kakak perempuannya.

Dengan tetap tenang, orangtua bisa meminta anaknya untuk mencoba memakai sepatu papanya. “Ketika dia memakai sepatu papanya, baru kita kasih pujian seperti, ‘Wah ganteng nih anak Mama, sama ya kaya Papa’. Sehingga dia belajar memahami kalau dia adalah laki-laki.”

Itu mengapa peran ayah juga sangat penting untuk terlibat langsung dalam menumbuhkan sifat khas anak laki-laki. Papa berperan menjadi sosok nyata laki-laki dewasa yang memimpin dengan penuh perhatian dan tanggung jawab. Ini menurut Naomi bisa tercipta ketika ayah berhasil membuat anaknya merasa nyaman ketika berada di sekitarnya.

Peran ini pun disadari oleh Anne. Kedua anak laki-lakinya sering meluangkan waktu untuk beraktivitas di luar ruangan bersama papanya. “Karena bapaknya lebih memahami sifat khas dari anak laki-laki jadi mereka biasanya lebih dibebaskan untuk manjat-manjatan dan main kotor untuk menyalurkan energi mereka. Sementara kalau mamanya pasti akan lebih banyak kuatirnya ketika melihat anak bermain seperti itu.”

Tak hanya itu, Anne bercerita kalau suaminya terlibat langsung dalam pemilihan pakaian anak-anaknya untuk semakin menegaskan atribut identitas kedua anak laki-lakinya. Sedangkan untuk menumbuhkan nilai karakter sebagai pemimpin, suami menjadi contoh tentang ketegasan. “Jadi ketika anak-anak salah, papanya akan mengingatkan dengan tegas. Harapannya mereka jadi punya konsep yang kuat untuk menjadi laki-laki yang memimpin dengan tegas tapi juga perhatian,” ucap Anne.

Sebagai orangtua, selain menyadari anak laki-laki mereka punya sifat-sifat khasnya, penting juga untuk memberi ruang agar karakter laki-lakinya tersalurkan dengan lebih terarah. Jadi, energi yang berlebihan tidak berubah menjadi kasar dan penuh kekerasan. Misalnya, untuk sifat khas anak laki-laki yang cenderung keras kepala, orangtua tetap memberikan kesempatan untuk mereka beragumentasi tapi tetap diarahkan agar argumentasinya tidak menyerang atau melukai orang lain.

Situasinya pasti akan lebih menantang ketika anak kita semuanya laki-laki, karena sifat khas mereka membuat semuanya ingin menunjukkan egonya masing-masing. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan orangtua?

Tip dari Naomi adalah dengan memberikan kedua belah pihak punya kesempatan yang sama untuk “eksis”. “Diberi tahu kalau ketika abangnya berargumentasi, adiknya diam dan mendengarkan, begitu sebaliknya. Ini akan membuat mereka sama-sama punya penyaluran untuk dorongan sifat dasarnya. Jadi suasana rumah bisa sedikit berkurang chaos-nya.”

Mengekspresikan Emosi

Bicara soal menunjukkan ego pasti bertalian dengan emosi. Dan biasanya sisi ini jarang dibahas ketika mengupas sifat khas anak laki-laki. Karena anak laki-laki kebanyakan diperkenalkan dengan menjadi tegas dan kuat, hingga tanpa disadari menegasikan emosi sedihnya. Alhasil tak jarang kita mendengar idiom, anak laki-laki tidak boleh cengeng.

Menurut Naomi, persepsi ini terbentuk karena peran sosial. Karena sebenarnya dari sisi hormonal pun, laki-laki punya emosi, baik rasa marah maupun sedih. Jika Mama ingin anak berkembang dan tumbuh seperti manusia seutuhnya, maka penyaluran emosinya pun harus terpenuhi.

Lalu bagaimana mengajarkan anak laki-laki untuk mengidentifikasikan emosinya?

“Caranya adalah mengintegrasikan emosinya dengan logika,” jawab Naomi. Contoh, karena terlalu bersemangat lari-larian, anak kemudian terjatuh dan menangis. Naomi menyarankan agar membiarkan dia menangis karena ini adalah proses dia belajar mengenali emosinya. Baru setelah itu pancing dia untuk mengidentifikasikan rasa sakitnya.

Ibu bisa mengatakan, misalnya, “Di mana yang sakit? Kita obatin ya.” Komunikasi sederhana ini adalah stimulasi yang akan membuat anak laki-laki kita tak hanya mengidentifikasikan emosinya tapi juga membuat mereka mengenali masalahnya ada di mana dan mencari solusinya apa. Ketika si buyung terbiasa mengidentifikasikan masalah, emosi bisa diekspresikan dengan tidak berlebihan karena terintegrasi dengan logikanya.

Alhasil anak laki-laki kita tak hanya mengeksplorasi lingkungannya sesuai dorongan biologisnya tapi juga menguatkan sifat-sifat khasnya menjadi laki-laki dewasa yang berkarakter, tegas, dan bertanggung jawab. “Karena itu, peran orangtua untuk duduk bersama, bercerita dan berdiskusi dengan anak menjadi sangat penting. Anak laki-laki kita pun akhirnya tumbuh sehat mental dan emosi,” pungkas Naomi.

***

Ajarkan Ikut Bertanggung Jawab

Setiap anak pada dasarnya harus sudah menguasai soft skill tertentu. Menurut Psikolog Klinis Anak Naomi Soetikno, Mpd, Psi, pada usia balita, yang perlu dikuasai anak laki-laki adalah ketrampilan motorik kasar dan halus, keseimbangan, serta bahasa dan kemandirian. Ketrampilan motorik kasar dan keseimbangan yang dimaksud itu seperti mengayuh sepeda, bermain engklek atau melompat mengangkat sebelah kaki, bermain monkey bar.

Keterampilan motorik halus dimulai dari yang besar sampai yang kecil, seperti melipat selimut, memeras kain cucian, ikut mengolah adonan kue atau membuat donat atau menggunting dan melipat. Mama bisa mengajak anak melipat origami dan hasil karyanya menjadi gantungan atau dekorasi di kamar atau rumah.

Kemandirian yang diperlukan untuk anak balita adalah memakai dan melepaskan pakaian, membersihkan diri seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Ini dilakukan untuk anak laki-laki maupun perempuan.

Selain itu, anak lelaki juga perlu diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap keamanan rumah. Misalnya, berikan tanggung jawab anak laki-laki untuk menutup gorden saat telah malam hari dan tingkatkan sampai dengan memperhatikan apakah gembok gerbang sudah terkunci.

“Papa juga perlu memberi contoh dalam hal membantu Mama mengurus rumah. Contoh, Papa ikut menyiram tanaman, menyapu halaman, atau mengganti lampu. Selain dicontohkan oleh Papa dan Mama, kegiatan mengurus rumah tangga juga harus disertai dengan penjelasan dan mafaatnya,” kata Naomi.

Bila selalu melihat contoh dari orangtuanya, anak dengan sendirinya akan melihat bahwa itulah tugas dan tanggung jawab yang melekat pada dirinya. Kelak, anak tak perlu disuruh-suruh lagi untuk melakukan tugas-tugas tersebut karena sudah dapat melakukannya secara mandiri.

Artikel ini dimuat pada Tabloid Nakita No. 942/TH.XIX/19 – 25 April 2017

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *