Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

Cerdas Memilih Susu Pertumbuhan Anak

 

Foto: freedownload.com

Foto: freedownload.com

Belakangan pemerintah kembali menggalakkan kampanye 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak sejak dari kandungan. Dan yang menjadi fokus utama dari kampanye 1000 HPK itu adalah optimalisasi nutrisi karena itu di setiap tahapan tumbuh kembang, anak membutuhkan kalori yang cukup. Ini artinya orangtua tidak boleh sembarangan memberikan makanan pada bayi.

Kita tentu sepakat 0-6 bulan ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. ASI memiliki komponen nutrisi terbaik untuk mendukung pertumbuhan bayi. Dan hebatnya seiring dengan perkembangan serta pertumbuhan bayi, komposisi ASI pun mengikuti kebutuhan. “Jadi ASI itu ada ASI pada masa awal, peralihan dan matang. Bahkan komposisi ASI pada siang dan malam saja berbeda karena menyesuaikan dengan kebutuhan bayi,” jelas Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, SpA(K) yang menjadi pembicara di salah satu diskusi Forum Ngobras beberapa waktu lalu.

Ariani kemudian menggambarkan ASI sumber makanan bayi yang lengkap menyajikan appetizer, main course, sampai dessert. Maksudnya?

“Ibaratnya satu payudara itu, dari awal sampai akhir memberikan komposisi komplit. Di bagian awal, ASI lebih banyak mengandung protein, vitamin, mineral dan karbo. Sedangkan di bagian akhir lebih banyak mengandung lemak.”

Karena itu Ariani mengingatkan agar ketika menyusui harus dari awal sampai akhir di satu payudara agar bayi mendapatkan komponen makanan yang komplit. Jika “ritual makan” ini terputus-putus maka bisa dipastikan bayi tidak kenyang sempurna. “Di bagian akhir ASI lebih banyak mengandung lemak karena bayi membutuhkan itu untuk menaikkan berat badannya,” tambah Ariani yang berpraktek di RSAB Harapan Kita ini.

Tapi setelah lepas ASI, pemberian susu sebagai makanan tambahan boleh diberikan. Ariani menyebutkan susu sebagai makanan tambahan ini tidak hanya mendukung fase pertumbuhan anak tapi juga karena mengandung banyak mikronutrien penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak. Mikronutrien apa saja yang bisa didapatkan dari makanan tambahan itu? “Susu kaya akan kalsium, magnesium, selenium, riboflavin atau vitamin B2, vitamin B12 dan asam pantothenat atau vitamin B5,” jawab Ariani.

Apakah ini berarti anak-anak boleh minum susu sesuka hatinya? Tentu saja tidak. Karena orangtua harus memerhatikan jenis susu dan seberapa banyak takarannya. Lagi-lagi Ariani mengingatkan kalau masing-masing fase pertumbuhan anak memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda. Panduan dari U.S. Department of Agriculture tahun 2010 tentang takaran minum susu adalah, untuk anak-anak di bawah usia 2 – 3 tahun, 2 gelas perhari, usia 4 – 8 tahun, cukup 2,5 gelas dan anak di atas 9 tahun bisa sampai 3 gelas sehari.

Tapi saat ini banyak sekali pilihan susu pertumbuhan yang tersedia di pasaran untuk anak-anak. Mulai dari susu segar, susu steril, susu pasteurisasi, susu UHT, susu bubuk dan susu kental manis. Apa sajakah kekurangan dan kelebihan dari masing-masing susu ini jika dijadikan makanan tambahan yang dapat mendukung tumbuh kembang anak?

Ariani menjelaskan untuk susu segar, ini tidak dianjurkan diberikan kepada anak. Mengapa? Karena susu segar tidak melalui proses sterilisasi. Sehingga kalau hewannya sakit sangat berpotensi menyebarkan penyakit pada orang yang mengonsumsi susunya.  “Yang juga menjadi pertimbangan adalah susu segar tidak mengandung zat besi dan asam folat yang cukup.”

Padahal, lanjut Ariani, zat besi serta asam folat sangat penting untuk pembentukan sel darah merah, pembentukan DNA. “Anak ASI pun diberikan suplemen zat besi agar perkembangan otaknya baik, jadi susu segar sebaiknya tidak diberikan kepada anak karena zat besinya rendah.”

Sementara itu dari sisi teknologi pangan, DR. Ir. Dede R. Adawiyah dari Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor menjelaskan, susu segar memiliki kadar air yang sangat tinggi sehingga sangat mudah rusak. Daya simpannya hanya kurang dari 1 hari pada suhu ruang. “Karena itu susu segar sangat berisiko jika diberikan pada anak apalagi bayi.”

Risiko lain yang juga sering muncul pada anak yang mengonsumsi susu segar menurut Ariani adalah adanya darah dalam tinja anak. “Meski tidak selalu kelihatan tinjanya berdarah tapi sering kali ditemukan adanya microbleeding. Jadi secara kasat mata tinja anak tidak terlihat berdarah namun saat diperiksa di laboratorium ternyata ada sel-sel darah merahnya.”

Karena itu sebaiknya pilihlah susu pertumbuhan yang sudah menjalani proses sterilisasi. Susu pasteurisasi, steril, dan UHT adalah varian susu yang melalui proses pemanasan untuk sterlisasi. Hanya saja menurut Dede, suhu dan durasi pemanasan yang digunakan masing-masing susu berbeda-beda.

Susu pasteurisasi misalnya, dipanaskan pada suhu 72 derajat Celcius selama 15 detik, sedangkan susu steril pemanasannya 100 derajat Celcius selama 30 menit, dan susu UHT pemanasannya mencapai 135-140 derajat dengan durasi 2-4 detik karena metode high temperature short time (HTST).

Pada susu pasteurisasi, bakteri patogen yang ditargetkan memang mati tapi beberapa bakteri pembusuk masih ada. Karena itu harus ditambah usaha pengawetan yaitu dengan menyimpannya di suhu dingin. Kalau sudah dibuka kemasannya sebisa mungkin harus langsung dihabiskan.

Untuk susu steril, Dede menjelaskan, pengemasannya pasti menggunakan kaleng. Karena prosesnya, susu dimasukkan ke kaleng lalu dipanaskan. Pengolahannya berbeda dengan susu UHT yang baik susu maupun kemasannya dipanaskan secara terpisah. Lalu dipertemukan dalam ruang steril untuk memasukkan susu ke dalam kemasan. “Dengan pemanasan bersuhu tinggi namun dengan waktu yang pendek, diharapkan mampu mempertahankan komponen nutrisi yang ada. Plus susu UHT biasanya punya masa waktu penyimpanan yang lebih lama meski disimpan tanpa pendingin,” papar Dede yang merupakan dosen di IPB ini.

Tapi selain susu berbentuk cair itu ada juga susu bubuk berfortivikasi dan susu kental manis, bisakah keduanya masuk sebagai susu pertumbuhan anak ?

Dari sisi pemakaian maupun industri, Dede menjelaskan susu buku lebih mudah diaplikasikan serta aman. Susu bubuk diproduksi dengan cara menghilangkan hampir semua air dari susu segar yang sudah disterilisasi dengan metode pengering semprot hingga menjadi bubuk. Setelah itu susu bubuk bisa difortifikasi atau ditambahkan gizi yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan anak. Kelebihan lainnya, karena kandungan airnya sudah dihilangkan maka masa simpan susu bubuk jauh lebih lama. “Satu lagi, untuk susu pertumbuhan anak, umumnya prosedur pembuatannya memiliki standar keamanan yang sangat ketat,” jelas Dede.

Karena bisa ditambah dengan gizi maka untuk bayi-bayi dengan kebutuhan khusus, seperti bayi yang alergi atau bayi prematur biasanya variannya dibuat dalam bentuk susu formula bubuk. “Bayi prematur membutuhkan susu khusus yaitu susu dengan komponen lebih sederhana sehingga mudah diserap, namun umumnya mengandung kalori lebih tinggi untuk mengejar kenaikan berat badan. Ada lagi susu formula khusus bebas laktosa, untuk anak yang alergi laktosa, atau susu formula terhidrolisa untuk anak yang alergi susu sapi.” Demikian Ariani menambahkan.

Sedangkan untuk susu kental manis atau susu evaporasi, baik Ariani maupun Dede sepakat kalau itu bukanlah susu pertumbuhan anak. Jika dilihat dari proses pembuatan, Dede memaparkan susu kental manis dibuat dari susu biasa yang diuapkan sampai menjadi padat. “Penambahan gulanya bisa 40 persen, bahkan ada yang sampai 50 persen,” tegas Dede.

Kenapa mengantikan kadar air yang tervaporasi dengan gula? “Gulanya harus sukrosa karena kalau tidak dia tidak akan mengental,” jawab Dede sambil menyebutkan meski sekarang ada varian baru dari susu kental manis yang low calorie sugar tapi pada prosesnya pasti menggunakan bahan tertentu untuk mengentalkan. “Kalau untuk anak tidak baik karena gulanya terlalu tinggi. Plus gula yang tinggi itu juga bersifat sebagai pengawet meski tidak melalui proses sterilisasi tapi masa simpannya bisa lebih lama.”

Melengkapi penjelasan Dede, Ariani kembali mengingatkan salah satu program pemerintah yang menekankan pada pengurangan konsumsi gula pada anak. Gula lebih berbahaya daripada lemak untuk konsumsi anak-anak. Dalam jangka panjang, gula punya efek yang sangat jahat. “Menganggu berbagai gangguan seperti kegemukan dan diabetes.”

Jika dilihat secara fungsi, susu kental manis atau susu evaporasi sebenarnya diperuntukkan untuk tambahan makanan dan bukan untuk anak-anak. Ariani pun menegaskan, ASI tetap makanan terbaik untuk bayi sampai usia 6 bulan. Setelah usia 6 bulan, bayi harus diberikan MPASI untuk mengimbangi kandungan gizi pada ASI yang mulai berkurang, seperti zat besi dan seng. Dan pilihlah jenis susu yang zat gizinya sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan anak

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *