Medja Makan

Sehat, Produktif dan Bahagia

Plus Minus Metode MPASI Baby Lead Weaning

bayi makan sendiriSetelah melalui pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, kebutuhan nutrisi dan kalori bayi pun bertambah. Alhasil orangtua mulai mendampingi bayinya untuk memasuki fase pemberian makanan pendamping ASI alias MPASI.

Jika dulu metode MPASI yang dikenal diawali dengan pemberian makanan lembut atau puree nah belakangan ada metode baru yang tengah ramai diperbincangkan. Metode baru ini adalah baby lead weaning atau BLW. Yang menarik dari metode MPASI BLW ini adalah bayi langsung dikenalkan dengan makanan padat yang ukurannya sebesar genggaman bayi atau finger food dengan keleluasaan mereka untuk memilih serta menyuap sendiri dengan tangannya.

Saat Medja Makan pertama kali melihat metode ini di media sosial para public fiqure ke bayi-bayi mereka, pertanyaan pertama yang terlintas adalah seberapa siap sih pencernaan bayi-bayi ini menerima makanan padat tersebut? Apakah dampak positif maupun negatif dari penerapan metode MPASI ini pada fase pertumbuhannya?

Nah untungnya Senin (4/9) kemarin, Forum Ngobras menggelar diskusi tentang ini. Menariknya lagi, narasumber yang dihadirkan bukan hanya dari dokter anak saja tapi juga dari dokter gigi anak. Karena semenjak metode BLW ini ramai dibicarakan, jarang yang membahasnya dari sisi pertumbuhan gigi serta rahang anak. Makin nggak sabaran mau tahu hasil diskusinya ya, cus kita lanjut.

Yang Harus Diperhatikan Saat Memilih Metode MPASI

Menurut Dr. Lucia Nauli Simbolon, SpA., ada beberapa hal yang harus diperhatikan orangtua sebelum memilih metode MPASI mana yang akan dijalankan. Pertama pemberian MPASI tidak boleh terlambat atau terlalu cepat. “Harus tepat waktu. Artinya saat ASI eksklusif berakhir maka kebutuhan gizi anak tidak dapat dipenuhi hanya dengan ASI, makanya perlu mendapatkan makanan pendamping.”

Kedua, lanjut Lucia, metode MPASI yang diberikan harus dapat memeunuhi kebutuhan gizi serta nutrisi anak. Ini artinya dari sisi jumlah harus mencukupi dan dari variasi gizi harus mengandung energi, protein, makronutrien dan mikronutrien.

Sebenarnya ada ciri-ciri yang akan muncul untuk menandakan bayi kita sudah siap untuk MPASI. Lucia yang merupakan dokter spesialis anak di RSAB Harapan Kita ini pun menjabarkan ciri-cirinya yaitu kesiapan fisik dan psikologis bayi.

Untuk kesiapan fisik misalnya adalah si bayi sudah menunjukkan refleks ekstrusi atau memeletkan lidah yang sudah jauh berkurang. “Ini adalah tanda kalau bayi sudah mampu mengendalikan lidahnya untuk menelan makanan dengan baik.”Dan kesiapan fisik lainnya adalah bayi sudah mampu menegakkan kepala serta duduk tanpa atau hanya dengan sedikit bantuan.

Sedangkan dari sisi psikologis, Lucia menyebutkan adanya perpindahan dari reflektif ke imitatif (menirukan). Ini terlihat dari bayi yang sudah mulai bisa melakukan gerakan eksploratif dengan membuka mulut atau memajukan tubuh ke depan sebagai tanda dia mengenali rasa lapar, plus mengerti ketika sudah kenyang dengan menarik tubuhnya.

Setelah mengetahui ciri-ciri bayi yang sudah siap untuk MPASI maka timbullah pertanyaan berikutnya, metode apa yang terbaik?

Pada dasarnya Lucia memahami bahwa pemilihan metode MPASI adalah hak prerogratif orangtua, khususnya ibu. Tapi sebagai dokter anak, Lucia menyarankan untuk berpegang pada pedoman WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang mengawali MPASI dengan makanan yang bertekstur lembut. “Makanan lembut ini adalah makanan yang direbus kemudian disaring dan tidak terlalu encer.”

Menurut Lucia, MPASI yang disaring lebih baik dari yang diblender karena teksturnya masih terasa sehingga melatih bayi untuk mengenali makanan bertekstur. “Dan disamping itu makanan yang disaring hasilnya tidak begitu encer, tidak seperti makanan yang diblender. Mengapa encer tidaknya MPASI menjadi perhatian? Karena dengan begitu organ pencernaan bayi bisa menyerap nutrisi serta vitamin dari makanan lebih optimal.”

Baru setelah memasuki usia 9-10 bulan, tekstur makanan yang lembut itu bisa ditingkatkan dengan makanan yang ditumbuk kasar. Dan ketika usia 10-12 bulan teksturnya semakin kasar yaitu dengan makanan yang dicincang-cincang. Hingga saat memasuki usia 12 bulan ke atas, bayi kita sudah siap dengan makanan padat yang seperti dimakan orang dewasa.

Mengapa proses pengenalan makanan yang bertahap ini direkomendasikan oleh WHO dan ikatan dokter anak di Indonesia? “Karena metode MPASI ini sudah diteliti secara klinis sesuai dengan perkembangan fisik, oromotorik, kondisi saluran pencernaan dan juga emosi anak.”

Lalu bagaimana dengan metode BLW yang men-skip makanan lembut dan langsung memberikan makanan padat pada bayi? “Hal yang menjadi concern saya adalah pada kecukupan gizi serta nutrisi yang didapat anak ketika menjalani metode ini,” jawab Lucia.

Karena kalau kita lihat secara kasat mata, kebanyakan bayi-bayi yang mendapatkan finger food sejak dini yaitu di bawah delapan bulan, sebagian besar makanan yang diberikan akan terbuah atau dilepeh karena belum mampu mencacah makanan dengan sempurna. Jika sebagian besar makanan terbuang maka akan ada kemungkinan bayi tidak mendapatkan kecukupan nutrisi.

Kecenderungannya, bayi yang diberikan MPASI dengan BLW akan mengalami kekurangan zat besi. Padahal ini adalah salah satu nutrisi yang amat dibutuhkan pada proses tumbuh kembang anak.”

Makanan apa sajakah yang tinggi zat besi? Sumber makanan hewani seperti daging dan telur. “Sepertinya bayi yang kurang dari delapan bulan pasti kesulitan untuk mencacah makanan itu secara sempurna. Kalaupun ada yang tertelan, saluran pencernaanya pun belum siap untuk menyerap nutrisinya secara sempurna.”

Adakah yang bisa dilakukan untuk mengejar kecukupan zat besi pada bayi yang diberikan metode MPASI BLW? Lucia menyarankan untuk memberikan suplementasi zat besi agar proses tumbuh kembang bayi tetap berjalan optimal.

Pengaruh Metode MPASI BLW Terhadap Pertumbuhan Gigi Bayi

Medja Makan pun semakin penasaran untuk mencari tahu, sebenarnya adakah dampak negatif atau positif dari metode MPASI BLW dari sisi pertumbuhan anak secara jangka panjang? Lucia menjawab, meski sudah ada sejak 10-15 tahun lalu yang diplopori oleh Gill Rapley, tapi sampai saat ini belum ada penelitian yang dilakukan secara skala besar terkait tentang dampak serta manfaat dari metode MPASI BLW. Studi-studi yang ada masih sebatas observational dalam kelompok-kelompok kecil.

Bagaimana dari sisi pertumbuhan gigi dan rahang bayi, adakah manfaat yang bisa dirasakan dari pemberian finger food secara dini?

drg. Andria Diarti, SpKGA menjawab secara teori pemberian makanan bertekstur padat memang dapat merangsang pertumbuhan gigi karena menguatkan otot-otot pengunyahan serta menstimulai lengkung rahang untuk bertumbuh. “Dengan lekung gigi yang bertambah, tempat tumbuh gigi pun jadi lebar sehingga gigi jadi lebih mudah tumbuh.”

Andria kemudian memaparkan bagaimana mengunyah makanan padat bisa merangsang pertumbuhan gigi. Awalnya mahkota gigi akan terbentuk lalu diikuti dengan akar gigi. Pembentukan akar gigi akan mendorong gigi tumbuh menembus gusi dan ditambah ada tekanan darah di gusi, maka gigi pun tumbuh.

Tetapi sekali lagi, tetap harus diperhatikan kebutuhan nutrisinya agar gigi tumbuh optimal. Terutama untuk kebutuhan kalsifikasi makhota gigi yang membutuhkan zat gizi  terutama kalsium,” tegas Andria yang adalah dokter spesialis gigi anak di RS Jatinegara Premier ini.

Selain menggunakan makanan padat, gerakan mengunyah untuk menstimulasi pertumbuhan serta pembentukan rahang gigi juga bisa dilakukan dengan menggunakan teether. Atau bisa juga sesekali menjadikan potongan sayur kukus sebagai pengganti teether.

Tapi yang juga harus diingat, semakin dini anak mengunyah makanan padat maka artinya perawatan gigi pun semakin serius. Mengapa? Karena sebenarnya gerakan mengunyah juga membuat tulang gigi terkikis. Secara alami, proses penggantian lapisan tulang yang hilang itu bisa di-remodelling dengan bantuan air liur karena tinggi akan kalsium.

Bisa dibayangkan jika rangsangan pertumbuhan gigi menggunakan makanan padat dimulai sejak dini tapi tidak diikuti dengan kecukupan gizi yang maksimal, maka pertumbuhan gigi pun menjadi tidak sempurna.

Disamping itu men-skip pemberian makanan lunak pada proses pengenalan makanan pada bayi juga bisa berdampak pada artikulasi bicara di kemudian hari. Jika kita perhatikan, ketika masih mengonsumsi ASI, bayi masih belum terbiasa untuk memosisikan lidahnya di belakang rahang.

Lalu ketika lepas ASI eksklusif dengan lengkung rahang yang mulai terbentuk, bayi mulai terlatih untuk tidak memeletkan lidahnya. Pada tahap ini lidah bayi tengah belajar untuk melumat makanan, karena itu makanan lunak menjadi pilihan yang aman untuknya.

Proses mengenali makanan dari lunak menuju padat juga melatih bayi untuk meletakkan lidah di posisi yang tepat ketika berartikulasi. Jadi prosesnya tak hanya membuat pertumbuhan gigi serta rahang berjalan sempurna tapi juga memaksimalkan kemampuan anatomi mulut bayi untuk berbicara dengan artikulasi yang baik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *